Rasisme dan Urgensi Tatanan Dunia Baru

      Dunia kembali digemparkan dengan demonstrasi besar-besaran di berbagai belahan dunia akibat kasus rasisme yang terjadi di Amerika Serikat. Kematian George Floyd, seorang keturunan Afrika yang berkulit hitam pada tanggal 25 Mei di Minneapolis ketika seorang polisi berkulit putih terus berlutut di lehernya, bahkan setelah dia mengeluh tidak bisa bernafas (Tempo.co, 5 Juni). Kematian Floyd ini kemudian memancing kemarahan massal sebagai wujud kecewanya akan kasus rasisme yang masih terus berkembang di Amerika Serikat.

      Kematian George Floyd memicu unjuk rasa lebih dari 75 kota di AS dan di berbagai negara seperti Inggris, New Zealand, Jerman, Italia, Kanada, hingga Irlandia. Protes atas rasisme ini berbalut dengan spanduk yang berisi kritikan kepada pelaku rasisme dan kata terakhir dari Floyd, I Cant Breath dan Black Live Matter. Protes juga muncul di Indonesia walaupun tidak diwujudkan turun ke jalan sebab masih dalam kondisi PSBB. Mereka bersuara lewat media sosial.

      Dunia memang sudah dibuat lelah dengan kasus rasisme. Amerika yang dianggap sebagai negara yang memiliki masalah kronis terkait rasisme mendapat sorotan dari pejabat-pejabat dari berbagai negara. Salah satunya adalah Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Zhao Lijianm. Zhao menyatakan hak asasi warga kulit hitam harus dijamin AS. Juru Bicara Africa Union, Ebba Kalondo juga angkat bicara. Ebba mengatakan bahwa mereka mengutuk keras pembunuhan George Floyd oleh aparat penegak hukum yang terjadi di AS dan berbelasungkawa terdalam kepada keluarganya dan yang dicintainya. Ia juga mendesak agar AS menhapus diskriminasi terhadap ras dan etnis tertentu.

      Penduduk kulit hitam di AS masih sering dianggap miring. Berbagai tudingan sering diarahkan kepada mereka seperti stigmatisasi bahwa mereka sering melakukan kriminalitas namun pada saat yang sama penduduk kulit putih pun ada yang melakukan hal yang sama. Kondisi ekonomi juga memperparah rasisme dimana orang-orang berkulit gelap kerap digambarkan dengan socio ekonomi rendah. (IDNTIMES, 4 Juni)

      Bukan hanya stigmatisasi buruk yang kerap diterima oleh orang-orang berkulit hitam di AS. Bahkan kekerasan terhadap mereka jauh lebih tinggi. Seperti yang dikutip dari Harper’s Bazaar bahwa orang-orang Afrika-Amerika meninggal akibat kekerasan aparat kepolisian sebanyak 7,2 juta, sementara kulit putih terbnuh 2,9 juta. Bahkan pada masa lockdown di AS akibat dari pandemi Covid 19, sejumlah sejumlah orang berkulit hitam menjadi sasaran aparat kepolisian sebab melanggar aturan lockdown. Bahkan dilaporkan bahwa sebanyak 81 persen pelanggaran itu ditujukan kepada oramg berkulit hitam dan latin seperti yang dikutip dari NBC. Kasus kekerasan pihak keamanan terhadap orang-orang berkulit hitam pun banyak terjadi tanpa ada basis yang jelas. Tahun 2014 lalu, Eric Garner meninggal akibat cengakaman di lehernya, sebelumnaya mengatakan “I cant breath” kata yang sama diucapkan George Floyd sebelum meninggal. (IDNTIMES, 4 Juni)

      Meski “Black Live Matter” sudah digerakkan sejak 2015 dan juga banyaknya gerakan anti-rasisme yang muncul, masih belum ada bukti yang nyata bahwa orang-oranng berkulit gelap mendapatkan tindakan yang adil dalam kehidupan mereka. Amerika sebagai negara yang mengimpor demokrasi, HAM, dan nilai sosial masih juga mendapat pandangan miring terkait dengan masalah rasisme. Diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam masih menjadi masalah yang tak terselesaikan. Walaupun Demokrasi dengan gagahnya mengatakan bahwa HAM adalah hak setiap manusia, tapi nyatanya hal itu masih belum terwujudkan.

      Diskriminasi dan rasisme masih menjadi masalah sensitive dunia hingga saat ini, bagaimana tidak masalah ini seolah sangat sulit untuk dihilangkan walaupun kampanye toleransi telah dideklarasikan dimana-mana. Indonesia juga termasuk dalam negara dimana kasus rasisme masih kerap kali terjadi. masih ada golongan tertentu yang menganggap warga disebagian wilayah tertentu terbelakang dan bahkan menyebutnya binatang.

      Negara kapitalis liberal sudah tampak kewalahan menghadapi masalah rasisme. Mereka hanya bisa menghadapi masalah ini dengan hukuman untuk membatasi paradigma rasis dan tidak memiliki sarana untuk menghapuskan paradigma yang buruk ini. Pandangan inferioritas bagi golongan tertentu hanya karena perbedaan yang dimilikinya seperti warna kulit menunjukkan kemunduran berpikir yang luar biasa seorang manusia. Peradaban kapitalisme yang saat ini sudah dianggap maju dan modern tapi pada saat yang sama masih ada cara pandang terbelakang seperti diskriminasi terhadap orang-orang berkulit hitam. Hal ini menunjukkan bahwa ada yang salah dengan peradaban dan tatanan kehidupan saat ini. Nilai-nilai sosial yang terus diimpor AS sebagai pusat peradaban kapitalisme seperti HAM ternyata hanya isapan jempol belaka dan tak bisa menghapuskan paradigma-paradigma buruk seperti rasisme. Masalah rasis yang masih langgeng hingga sekarang merupakan bentuk kekurangan dan kerusakan peradaban kapitalisme.

      Islam dengan tatanan hidupnya yang menakjubkan telah memberikan bukti bahwa kesatuan semua warna kulit bisa terwujud dibawah kesatuan Sang Pencipta. Dari alternative solusi tersebut dapat dilihat bahwa jelas Islam dan peradabannya mampu memimpin umat manusia. Karena itu ada beberapa poin penting dari cara pandang Islam yang perlu dipahami dunia tekait dengan persoalan rasisme semacam ini, yang juga turut dipengaruhi oleh sistem pendidikan dan kekuatan politik negara dalam membingkainya.

 

Pendekatan Unik Islam Terhadap Rasisme

      Al-Quran sebagai sumber hukum yang sempurna mengajarkan cara berpikir yang benar bahwa setiap manusia berasal dari asal yang sama dan hanya taqwa yang membedakannya. “..sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah yang paling taqwa diantara kamu,..(QS Al-Hujurat: 13)
Rasulullah Saw. berkata, “wahai manusia, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu dan ayahmu adalah satu. Sesungguhnya tidak ada keunggulan orang arab diatas non-Arab, atau non-Arab diatas orang Arab, atau orang kulit merah diatas kulit hitam, atau orang kulit hitam diatas orang kulit merah, kecuali dalam hal takwa…”(HR Ahamd)

      Jelas bahwa tidak ada ruang diskriminasi dan rasisme dalam Islam. Semua manusia dianggap sama dan tidak ada perbedaan kecuali dalam hal ketakwaan. Pandangan seperti inilah membuktikan bahwa Islam sangat mulia dan mampu merangkul semua umat manusia. Dunia saat ini jelas menunggu contoh peradaban terbaik yang mampu membawanya kepada kesejahteraan dan peradaban itu adalah Islam. Islam membangun sistem komprehensif yang secara historis mengatasi rasisme. Bahkan non-muslim telah mencatat ini. Sejarawan terkenal, Profesor A.J. Toynbee pada tahun 1948 mengatakan “ kepunahan kesadaran ras sebagai umat Islam adalah salah satu pencapaian luar biasa Islam, dan dunia kontemporer, seperti yang terjadi, ada kebutuhan yang mendesak untuk penyebaran kebijakan Islam ini. Dunia sepertinya memang perlu memberikan membuka mata dan tangan kepada Islam yang mampu memberikan solusi solutif atas setiap problema manusia. Wallahu’alam bissowab

 

Zainab

(Mahasiswi aktivis dakwah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *