MENGHADAPI NEW NORMAL, BEM FK UNHAS GELAR WEBINAR

      Sabtu, (13/06/2020) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin ( BEM FK UNHAS) menyelenggarakan Webinar KEMA For Covid-19 dengan tema “New Normal, Merajut Asa atau Putus Asa?’’. Webinar berlangsung pukul 15.30-17.30 WITA melalui platform Youtube Live Streaming. Webinar ini menghadirkan dua pemateri. Dari segi kesehatan dibawakan oleh dr. Muh. Firdaus Kasim, M.D., M.Sc. Sedangkan materi kedua dibawakan oleh Kepala Bappeda Kota Makassar dr. Andi Hadijah Iriani, Sp. THT., M.Si yang membahas dari segi ekonomi. Kegiatan ini dipandu oleh Nursyam Bandu selaku moderator sekaligus Presiden BEM Terpilih KEMA FK Unhas Periode 2020/2021. Webinar terbuka untuk umum dan terdapat 90 peserta.

      Materi pertama dibawakan oleh dr. Muh. Firdaus Kasim, M.D., M.Sc. Ada tiga topik pembahasan yaitu, transmisi, risiko penularan, dan adaptasi kebiasaan baru. “Pada awal pandemi kita mengatakan bahwa penularan itu melalui dua metode saja yaitu droplet dengan jarak 1.5 meter dan sentuhan permukaan, lalu yang menjadi pertanyaan adalah apakah terbetuk aerosol yang artinya risiko penularan lebih dari 1.5 meter atau 1 meter”. Pada kesempatan itu, pemateri menjelaskan bahwa ada penelitian dari Center for Disease Control (CDC) yang menyajikan tentang Outbreak Air Conditioning di Guangzhou, China tahun 2020. “Dari penelitian ini dapat dilihat adanya Air Conditioning atau modifikasi udara serta duduk lebih dari 30 menit dapat mempengaruhi penularan dari Covid-19”, ucap dr. Muh. Firdaus Kasim, M.D., M.Sc. Selain itu, pemateri menjelaskan bahwa walaupun pada 11 Maret 2020 Badan Kesehatan Dunia masih mengatakan penularan melalui Airborne relatif tidak mungkin terjadi, tetapi berdasarkan bukti baru ada besar kemungkinan penularan melalui Airborne. “Droplet berukuran 100 mikro meter akan jatuh ke tanah dalam 4,6 detik, sedangkan aerosol yang 1 mikro meter yang keluar dari orang yang berbicara butuh waktu 12,4 jam atau setengah hari apalagi jika ada AC (Air Conditioning) pada tempat itu maka virusnya akan terus melayang-layang di udara dan bisa masuk ke orang sekitar”, ucap dr. Muh. Firdaus Kasim, M.D., M.Sc sebagai lanjutan. Mengenai masalah penerapan New Normal, dr. Muh. Firdaus Kasim, M.D., M.Sc menjelaskan bahwa perlu adanya adaptasi kebiasaan baru. “Banyak diskusi mengenai apakah kita perlu melakukan PSBB atau tidak, dalam hal ini apakah kita memilih tujuan kesehatan atau tujuan perekonomian, sebenarnya kita tidak perlu ada dalam kedua pilihan tersebut karena adaptasi kebiasaan baru bisa menawarkan kepada kita untuk tetap melaksanakan aktifitas perekonomian namun tetap bisa menjaga kesehatan kita”, ucap dr. Muh. Firdaus Kasim, M.D., M.Sc.  New normal bukan berarti menjalankan aktifitas seperti sebelum adanya Covid-19, karena adaptasi kebiasaan baru artinya ada faktor risiko yang perlu dihindari sehingga ada kebiasan-kebiasan yang harus dijadikan aktifitas rutin. Pemateri menjelaskan ada beberapa rekomendasi kebijakan terkait adaptasi kebiasaan baru. Salah satunya adalah Surveillance yang ketat. “Surveillance artinya kita harus tetap mengamati kenaikan kasus, penurunan kasus, kasus kematian, serta bagaimana kesembuhan pasien”, ucap dr. Muh. Firdaus Kasim, M.D., M.Sc. Selain itu, pemateri juga menjelaskan protokol kesehatan untuk adaptasi kebiasaan baru bagi pelaku ekonomi yang melakukan kontak dengan orang banyak misalnya penjual di warung-warung. “Memang risiko penularan indoor yang paling tinggi, namun jika ingin melakukan aktifitas perekonomian seperti menjual harus diupayakan dalam kondisi outdoor atau usahakan adanya ventilasi dan sinar matahari yang cukup masuk ruangan aktifitas tersebut serta kita harus saling mengingatkan untuk menggunakan masker, harus ada jarak lebih 1 meter, serta jadikan masker sebagai norma dalam masyarakat sehingga akan terus dipatuhi oleh masyarakat”, ucap dr. Muh. Firdaus Kasim, M.D., M.Sc sebagai penutup.

      Materi kedua dibawakan oleh Kepala Bappeda Kota Makassar dr. Andi Hadijah Iriani, Sp. THT., M.Si. Pemateri membahas tentang dampak adanya Covid-19 dalam bidang ekonomi serta bagaimana strategi Pemerintah Sulawesi Selatan mengaktualisasi New Normal. “Beberapa kebijakan dasar untuk penanganan Covid-19, yaitu pertama kita menetapkan status keadaan darurat bencana wabah Corona Virus, kemudian kita melakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sebanyak 2 kali, lalu melakukan edukasi bahwa kita tetap harus melakukan kegiatan perekonomian tetapi kita juga harus menjaga kesehatan dari virus ini, setelah itu terjadi penetapan peraturan pemerintah seperti PSBB juga hidup bersih, dan yang terakhir adalah penerbitan protokol kesehatan”, ucap dr. Andi Hadijah Iriani, Sp. THT., M.Si. Pencanangan edukasi saat ini yaitu menerapkan hidup bersih dan produktif. Pemateri menjelaskan bahwa takeline untuk makassar saat ini adalah “Low contact and high immunity”. Selain itu, pemateri menjelaskan bahwa pemerintah melakukan PSBB untuk penanganan Covid-19 sebagai upaya bagaimana pemerintah kota menyadarkan masyarakat akan Corona Virus. Di sisi lain, pemerintah tidak bisa hanya diam tanpa melakukan kegiatan apapun. “Jika dibiarkan saja, tidak ada masyarakat yang bisa keluar, ekonomi tidak berjalan dengan baik maka semuanya akan kolaps”, ucap dr. Andi Hadijah Iriani, Sp. THT., M.Si. Pada Webinar kali ini, pemateri menjelaskan bahwa jika tidak lakukan New Normal maka pendapatan pemerintah akan anjlok atau turun drastis, karena semua pendapatan pemerintah khususnya Kota Makassar adalah dari pajak. “Ada 5 yang menunjang pertumbuhan ekonomi, yaitu perdagangan besar dan eceran, manufaktur, infrakstruktur, telekomunikasi dan aspek pendidikan, sehingga pemerintah melakukan upaya untuk tetap melaksanakan aktifitas tetapi tetap memperhatikan dari sektor kesehatan”, ucap dr. Andi Hadijah Iriani, Sp. THT., M.Si. Setelah itu, pemateri menjelaskan bahwa pendapatan Kota Makassar merupakan kontribusi tertinggi untuk Sulawesi Selatan yaitu ±hampir 35%, sedangkan untuk pulau Sulawesi kontribusi Sulawesi Selatan (Kota Makassar) sebanyak 25%. Pemateri menjelaskan bahwa beberapa strategi dan sinergitas penanganan akibat dampak Covid-19 dalam bidang ekonomi yaitu, menjaga daya beli masyarakat melalui pengendalian harga, memastikan sarana dan prasarana produksi tetap tersedia untuk para petani dan pasokan BBM (Bahan Bakar Minyak) untuk nelayan, dan memastikan dunia usaha bisa segera bergerak. Mengenai masalah penanganan untuk kestabilan ekonomi akibat Covid-19, pemateri menjelaskan bahwa penerapan New Normal merupakan solusi terbaik yang sudah dikaji oleh pemerintah. “Memang tidak ada jalan lain, secara perlahan kita harus mengarah pada New Normal karena jika ekonomi tidak berjalan dengan baik maka kita akan semakin terpuruk walaupun pandemik ini masih semakin meningkat maka kita dinas kesehatan harus bergerak cepat, dan badan usaha bisa dibuka kembali dengan catatan harus mematuhi protocol kesehatan yang sudah ditetapkan”, ucap dr. Andi Hadijah Iriani, Sp. THT., M.Si sebagai penutup.

      ”Tentu sangat bersyukur di tengah keadaan seperti sekarang kita masih bisa melakukan diskusi yang sangat bermanfaat dengan pemateri yang punya kapabilitas untuk menjelaskan mengenai keresahan-keresahan kita mengenai New Normal, meskipun kegiatan seperti ini sudah sering dilakukan tetapi antusiasme peserta untuk mengikuti materi masih tetap ada”, ucap Nursyam Bandu selaku moderator sekaligus Presiden BEM Terpilih KEMA FK Unhas Periode 2020/2021. Persiapan untuk pelaksanaan kegiatan tersebut juga tidak memiliki kendala. “Alhamdulillah tidak ada kendala yang berarti karena teman-teman panitia juga sangat baik mengatur segala teknis kegiatan, semoga kedepannya ruang-ruang diskusi seperti ini dapat terus dilakukan dengan topik menarik lainnya”, ucap Nursyam Bandu sebagai penutup.

 

(IC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *