APAKAH NEW NORMAL SUDAH SAATNYA? – M2F FK UNHAS

      Setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Indonesia dikabarkan akan memulai suatu tatanan hidup baru yang disebut dengan new normal atau hidup berdamai dengan Virus Corona. Dikabarkan, new normal akan berlaku mulai 1 Juni 2020 mendatang dengan tahap-tahap tertentu. Presiden Republik Indonesia Joko Widodo meninjau persiapan new normal di Mal Summarecon Bekasi. Dengan tatanan hidup new normal, Jokowi ingin masyarakat beraktifitas secara produktif namun tetap berusaha menghindar dari Covid-19 dengan memerhatikan protokol kesehatan. Sehingga, perekonomian Indonesia bisa berangsur-angsur pulih, Selasa (26/5/2020).

      Dalam rapat terbatas mengenai pembahasan pelaksanaan protokol tatanan normal baru, Jokowi menyampaikan pesan terutama pada puluhan ribu aparat polri dan TNI yang akan diterjunkan di 4 provinsi dan 25 kabupaten kota menuju era new normal. “Sehingga masyarakat tahu apa yang harus dikerjakan, seperti jaga jarak, gunakan masker, cuci tangan, dilarang berkerumun. Kalau itu dilakukan,sosialisasikan secara massif. Saya yakin kurva bisa kita turunkan di beberapa provinsi, katanya Rabu(27/5/2020).

      Selain itu, Menteri Koordinator Bidang Perekenomian Airlangga Hartato mengemukakan bahwa suka tidak suka masyarakat memang harus siap hidup berdampingan dengan Virus Corona mengingat vaksin dari virus tersebut sampai saat ini belum ditemukan. Beliau berharap, dengan kembalinya aktifitas seperti biasa, bisa mengembalikan perekonomian masyarakat seperti sedia kala.

      Hal ini menimbulkan kekhawatiran dari sejumlah pihak, termasuk tenaga kesehatan atas rencana penerapan new normal. Sehingga, banyak pihak yang sedang membicarakan tentang rencana penerapan new normal tersebut.

      Sabtu, (30/05/2020) Badan eksternal Medical Muslim Family (M2F) Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin mengadakan diskusi online dengan topik “The New Normal, Akankah Indonesia Berdamai dengan Covid-19?’’. Diskusi berlangsung pukul 19.00-22.00 WITA melalui aplikasi Zoom. Materi dibawakan oleh dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD, Kpsi dan dipandu oleh dr. Muh. Isman Sandira, M. Kes selaku moderator. Diskusi online ini terbuka untuk umum dan terdapat 174  peserta yang mengikuti diskusi tersebut.

      Masalah yang diperbincangkan mengenai apakah Indonesia saat ini sudah siap untuk menerapkan new normal yang lebih dikhususkan dari pandangan tenaga medis. “Memang new normal ini ada dimana-mana, ada beberapa negara yang sudah menerapkannya seperti Korea Selatan.Dia buka border dan perlonggar kekarantinaannya, kemudian terjadi kasus baru lagi sehingga ini seperti berdansa bukan berdamai, antara maju mundur antara manusia dan Corona Virus.Sedangkan di Indonesia sendiri, bahwa jika kurvanya masih menunjak, kita berarti bukan pada posisi melaksanakan new normal tetapi kita mensosialisasikan new normal karena ini sifatnya prilaku atau pola hidupucap, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD, Kpsi. Selain itu, beliau juga menjelaskan bahwa hal tersebut dilatarbelakangi oleh tidak semua masyarakat punya latar belakang pendidikan, level penerimaan dan kelas sosial yang sama. “PHBS yang sudah dikampanyekan berbulan-bulan kalau kita lihat masuk ke gang,lorong, kampung-kampung belum semua masyarakat terpapar berita ini karena mereka tetap berkumpul dan tetap berinteraksi seperti biasa”, ucap dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD, Kpsi melanjutkan. Selain itu, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD, Kpsi juga menjelaskan bahwa dari segi perspektif kasus Covid-19 Indonesia saat ini belum siap untuk menerapkan new normal. “Kalau saya ditanya apakah kita sudah siap untuk masuk dalam new normal dari perspektif Coronavirusnya, tidak siap karena jumlahnya masih bertambah sehingga bisa menimbulkan resiko macam-macam yang bisa kita prediksi jika kita memaksakan untuk menerapkan new normal”, ucap  dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD, Kpsi.

      Hal yang ditakutkan dari penerapan new normal ini adalah adanya second wave karena kebijakan tersebut berkaitan dengan budaya atau prilaku masyarakat. “Semuanya harus mereview kesehatan karena kalau tidak, bisa ambyar dan kesehatan ini bukan yang klinis serta kajiannya tentu epidemiologis, promotif dan preventif, jadi semuanya harus didengar”, ucap dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD, Kpsi.

      Selain membahas tentang kesiapan Indonesia melakukan new normal, diskusi kali itupun membahas tentang perkembangan vaksin yang belum ditemukan sampai saat ini. “Kalau tentang vaksin yang saya tahu kan kita sudah dapatkan sequencing genomnya dari Indonesia saat ini dan tiap negara kayanya berbeda-beda apakah sudah terjadi mutasi, itu benar karena mutasi konfern merupakan ciri khas dari virus ini. Dia adalah virus RNA dan yang didapatkan di Indonesia berbeda urutan sequencing genomnya dan tim yang bergerak yang sudah ditunjuk oleh pemerintah sudah ada, berarti tinggal kuat-kuatan dana karena tenaga kita kurang”, ucap dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD, Kpsi sebagai penutup.

      “Alhamdulillah diskusi onlinenya lancar, dengan pembahasan yang sangat seru dan menarik juga. Untuk kegiatan ini sebenarnya agenda yang kami maksudkan untuk halal bi halal, tapi dirasakan juga ingin sekalian membahas suatu topik yang hangat sekarang, maka jadilah diskusi online ini”, ucap Muh. Salas Al Aldi selaku Mas’ul M2F Periode 2019/2020. Persiapan untuk pelaksanaan kegiatan tersebut juga tidak memiliki kendala. “Harapannya semoga bisa bermanfaat seperti menambah wawasan tentang kondisi new normal yang akan kita siapkan, serta terkhusus buat anggota M2F bisa lebih mengakrabkan kita dan menjadi awal untuk dirutinkan kedepannya”, ucap Muh. Salas Al Aldi sebagai penutup.

 

(IC & DHR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *