KENALI DAN KENDALIKAN INFEKSI RABIES PADA MANUSIA

Rabies adalah penyakit infeksi yang menyerang sistem saraf manusia dan disebabkan oleh Lyssavirus serta ditularkan melalui gigitan hewan. Rabies tergolong penyakit infeksi yang berbahaya sebab menurut data dari CDC rabies menyebabkan kematian lebih dari 59.000 orang atau hampir 1 kematian setiap 9 menit diseluruh dunia pada tahun 2017.  Sementara itu di Indonesia, kasus rabies memiliki case fatality rate hampir 100% dengan penyebab 98% melalui gigitan anjing dan 2% lainnya melalui gigitan kucing dan kera. Melihat data tersebut, sudah seharusnya seseorang yang terkena gigitan hewan harus segera diberikan perawatan dan pemantauan medis untuk menghindari dampak buruk dari lyssavirus ini.

Upaya pengendalian rabies di Indonesia hingga saat ini meliputi: vaksinasi, respons cepat dan observasi hewan tersangka rabies, KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi), surveilans, eliminasi anjing selektif, manajemen populasi anjing, pembangunan fasilitas untuk kontrol rabies kontrol, dan manajemen pasca[1]pajanan pada manusia.

Untuk mendukung upaya pengendalian tersebut, kita  perlu mengenal lebih dini tanda-tanda hewan peliharaan ketika terkena infkesi lyssavirus sehingga penularanya ke manusia dapat di cegah . Diantaranya ditandai dengan anjing tidak menurut/mengenal pemiliknya, mudah terkejut, mudah berontak bila diprovokasi, suka menggigit apa saja tanpa provokasi, beringas, menyerang manusia, air liur banyak keluar, ekor dilengkungkan ke bawah perut, kejang-kejang lalu menjadi lumpuh. Selain itu, untuk pencegahanya anjing juga dapat divaksin terlebih dahulu. Vaksinasi anjing massal (cakupan minimal 70%) dinilai sebagai strategi paling hemat biaya dan efektif untuk mencegah rabies pada manusia.

Usaha pengendalian lain untuk mengendalikan dampak buruk dari infeksi rabies diantaranya dengan mengetahui gejala yang harus membuat kita waspada ketika seseorang terkena gigitan hewan sehingga penanganan pasca infeksi bisa dilakukan dengan segera. Manifestasi klinik yang bisa terjadi pada seseorang yang terkena gigitan  hewan rabies dapat terlihat dalam beberapa fase yaitu :

  1. Fase prodormal

Fase ini berlangsung beberapa hari setelah gigitan yang ditandai dengan gejala spesifik,demam, dan dilokasi gigitan terasa gatal,nyeri, dan kesemutan

2. Fase neurologis akut , terdiri dari 2 bentuk yaitu :

a. Ensefalitik : hiperaktif, bingung, halusinasi, gangguan saraf kranial (III, VII, VIII), stimulasi otonom (hipersalivasi, hiperlakrimasi, hiperhidrosis, dilatasi pupil, tekanan darah labil, hilang kontrol suhu), spasme/ kejang akibat rangsang taktil, visual, suara, penciuman (fotofobia: cahaya, aerofobia: udara, hidrofobia: air)

b. Paralitik : bersifat ascending, umumnya lumpuh dari ekstremitas yang digigit lalu ke seluruh tubuh dan otot pernapasan. Gejala klinis mirip dengan sindrom Guillain-Barre (GBS)

3. Fase koma

Terjadi 1-2 minggu setelah fase neurologis akut. Umumnya kematian terjadi akibat aritmia atau miokarditis

Apabila seseorang telah terinfeksi dan mendpat gejala-gejala di atas, maka yang bisa di lakukan adalah :

  1. Melakukan penaganan luka

Luka gigitan/jilatan segera dicuci dengan air mengalir dan sabun/deterjen minimal 15 menit, dilanjutkan pemberian antiseptik (povidon iodine, alkohol 70%, dll). Penjahitan luka dihindari sebisa mungkin. Bila tidak mungkin (misalnya luka lebar, dalam, perdarahan aktif), dilakukan jahitan situasi. Bila akan diberi SAR, penjahitan harus ditunda beberapa jam (>2 jam), sehingga antibodi dapat terinfiltrasi ke jaringan dengan baik

2. Imunisasi pasif

RIG (rabies immunoglobulin) atau SAR menetralkan langsung virus pada luka, memberi perlindungan selama 7-10 hari sebelum antibodi yang diinduksi vaksinasi muncul. Pemberian tidak diperlukan jika vaksinasi telah diberikan >7 hari sebelumnya.

3. Imunisasi aktif

Vaksinasi pasca-pajanan (post-exposure prophylaxis) diberikan dengan tujuan menginduksi munculnya antibodi penetral rabies. VAR diberikan secara IM di deltoid atau paha anterolateral, tidak diberikan di otot gluteal karena produksi antibodi rendah

Sumber

  1. https://www.kemkes.go.id/article/view/20092900001/8-dari-34-provinsi-di-indonesia-bebas-rabies.html
  2. Hemachudha, T. et al. (2013) ‘Human rabies: Neuropathogenesis, diagnosis, and management’, The Lancet Neurology. Elsevier Ltd, 12(5), pp. 498–513. doi: 10.1016/S1474-4422(13)70038-3.
  3. Hidayati, F. et al. (2019) ‘Counseling Intervention Using Lecture and Buzz Methods to Enhance Posyandu Cadres’ Knowledge and Attitude in Rabies Control in Sukabumi District’, Jurnal Penyuluhan, 15(1), pp. 65–74.
  4. Purnamasari, L. and Putra, K. A. D. (2017) ‘Pengendalian dan Manajemen Rabies pada Manusia di Area Endemik’, Cermin Dunia Kedokteran, 44(1), pp. 66–69. Available at: http://www.kalbemed.com/Portals/6/21_24CPD-8Pengendalian dan Manajemen Rabies pada Manusia.pdf.

TL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *