Pandemi Belum Berakhir, Obesitas Meningkat. Apa yang Terjadi?

Pandemi Covid-19 yang terjadi sampai saat ini, tentunya akan mengubah gaya hidup dan keadaan lingkungan di sekitar kita, masalah baru pun semakin banyak muncul. Salah satunya yaitu terjadinya peningkatan kasus obesitas. Lantas bagaimana hal ini bisa terjadi?

Pada saat ini, Indonesia mengalami beban ganda dalam masalah gizi, salah satunya yaitu obesitas. dr. Dhian Dipo, MA Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam webinar yang diselenggarakan oleh Nutrifood berkolaborasi dengan Kemenkes RI dan Badan POM RI bertajuk ‘Cerdas Baca Label Kemasan, Hindari Risiko Obesitas’, mengatakan bahwa di masa pandemi ini telah terjadi peningkatan pasien obesitas. Ini karena masyarakat dibatasi untuk keluar rumah, yang secara tidak langsung menyebabkan waktu untuk bermain gadget dan kebiasaan mengonsumsi makanan meningkat. Studi terhadap 173 orang mengatakan bahwa 91 persen orang lebih lama menghabiskan waktu di rumah dibandingkan sebelum pandemi. Data yang sama menunjukkan, ada 22 persen responden yang mengalami kenaikan berat badan sebanyak 2,5-5 kilogram.

Seperti kita ketahui, obesitas dapat menyebabkan berbagai komplikasi seperti Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT 2), sindrom metabolik (berupa hipertensi, disertai kadar kolesterol HDL yang rendah dan kadar trigliserida yang tinggi), stroke, dll. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan umum untuk dapat menilai seseorang mengalami obesitas atau tidak. Secara klinis obesitas dapat dengan mudah dikenali dengan tanda dan gejala yang khas antara lain wajah membulat, pipi tembem, dagu rangkap, leher relatif pendek, dada yang membesar dengan payudara yang membesar, perut membuncit dengan dinding perut yang berlipat-lipat dan kedua tungkai umumnya berbentuk X. Untuk menegakkan diagnosis, diperlukan pengukuran yang obyektif dengan pengukuran antropometrik dan laboratorik.

Untuk menurunkan berat badan, terdapat beberapa tips dari P2PTM Kemenkes RI, yaitu:

  • Menurunkan Berat Badan yang baik adalah maksimal 2 kg per bulan atau 1/5 kg perminggu dengan mengurangi asupan energi 500 kkal per hari.
  • Peningkatan aktivitas fisik dengan mulai menggunakan tangga dan berjalan lebih jauh dari tempat parkir serta akhir minggu melakukan aktivitas bersama keluarga.
  • Tidak mengurangi jumlah konsumsi makanan sehari-hari secara drastis sehingga mengakibatkan pusing, lemas, keringat dingin, atau gejala lainnya yang membahayakan kesehatan.
  • Tidak mengandalkan makanan formula saja untuk menurunkan berat badan.
  • Tidak menggunakan obat-obatan atau bahan penurunan berat badan tanpa pengawasan tenaga kesehatan. Beberapa obat dan bahan tersebut hanya menurunkan berat badan sementara dengan mengeluarkan cairan tubuh.

Akhir kata, dengan artikel ini diharapkan kita bisa lebih memperhatikan lingkungan sekitar kita agar kasus obesitas tidak semakin banyak sehingga kita bisa membantu masalah kesehatan orang-orang di sekitar kita.

(ER)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *