Jangan Termakan Isu, Mari Simak Mitos dan Fakta Seputar Vaksin COVID-19!
Sejak dikabarkan bahwa vaksin COVID-19 sudah tiba di Indonesia, muncul berbagai isu yang membuat masyarakat ragu tentang keamanannya. Hal ini dikarenakan banyaknya informasi yang bertebaran dan tidak semuanya benar. Informasi seputar vaksin COVID-19 dan perkembangannya semakin banyak beredar di media sosial. Masyarakat pun kesulitan membedakan mana yang sesuai fakta atau pun hoax.
Agar tidak termakan isu, simak fakta vs mitos mengenai vaksin COVID-19 berikut ini :
- Mitos: Vaksin COVID-19 tidak aman karena dikembangkan dengan sangat cepat.
Fakta: Vaksin COVID-19 ini terbukti aman dan efektif. Meskipun dikembangkan dalam waktu singkat, vaksin COVID-19 telah melalui proses administrasi makanan dan obat yang sama ketatnya dengan pembuatan vaksin lainnya. Ia memenuhi semua standar keamanan. Tidak ada langkah yang dilewati. - Mitos: Vaksin COVID-19 akan mengubah DNA.
Fakta: Vaksin COVID-19 tidak mengubah atau berinteraksi dengan DNA manusia dengan cara apa pun. Saat ini ada dua jenis vaksin COVID-19 yang telah diizinkan dan direkomendasikan untuk digunakan di Amerika Serikat, yaitu vaksin messenger RNA (mRNA) dan vaksin vektor virus. Baik mRNA maupun vektor virus COVID-19 memberikan instruksi (materi genetik) ke sel kita untuk mulai membangun perlindungan terhadap virus yang menyebabkan COVID-19. Namun, materi tidak pernah memasuki inti sel, di mana DNA kita disimpan. Ini berarti materi genetik dalam vaksin tidak dapat memengaruhi atau berinteraksi dengan DNA kita dengan cara apa pun. Semua vaksin COVID-19 bekerja dengan pertahanan alami tubuh untuk mengembangkan kekebalan terhadap penyakit dengan aman. - Mitos : Vaksin COVID-19 dapat membuat terinfeksi virus corona.
Fakta : Vaksin mRNA tidak mengandung virus hidup dan tidak berisiko menyebabkan penyakit pada orang yang divaksinasi.
Hayley Gans, MD, seorang dokter penyakit menular pediatrik Stanford Medicine di Palo Alto, California, menjelaskan, “Cara kerja vaksin adalah dengan memaparkan tubuh anda pada protein yang ada di permukaan virus, tetapi virus lainnya tidak hadir. Oleh karena itu, anda tidak terinfeksi virus dan tidak dapat berubah menjadi virus.”
- Mitos: Pernah terinfeksi virus corona, tidak perlu menerima suntikan vaksin.
Fakta: Dilansir dari CDC, 25 Agustus 2020, pasien COVID-19 memang telah memiliki antibodi setelah tertular virus corona. Akan tetapi, antibodi tersebut hanya dapat bertahan dalam jangka waktu 3-4 bulan saja, selebihnya seseorang akan kembali rentan terkena infeksi. Dengan melakukan vaksin, tubuh menjadi lebih memiliki sistem kekebalan yang lebih baik dengan jangka waktu yang lebih lama.
- Mitos: Vaksin COVID-19 meningkatkan risiko autisme atau kanker.
Fakta: “Tidak ada vaksin yang saat ini kami miliki yang menyebabkan autisme atau kanker,” kata Dr. Foster.
Dr. Foster menjelaskan bahwa ada sistem untuk mengidentifikasi dan melaporkan setiap efek merugikan yang jarang terjadi dari vaksinasi COVID-19. Dan salah satu tugas utama Kantor Keamanan Imunisasi CDC adalah melakukan penelitian untuk mengetahui apakah kejadian buruk yang dilaporkan oleh dokter, produsen vaksin, dan publik benar-benar disebabkan oleh vaksin tersebut atau disebabkan oleh hal lainnya.
- Mitos: Setelah menerima vaksin COVID-19, seseorang tidak perlu memakai masker lagi.
Fakta: Bahkan setelah orang mendapatkan vaksin COVID-19, mereka tetap perlu memakai masker dan menghindari kontak dekat dengan orang lain, karena CDC menjelaskan, tidak diketahui apakah mereka masih dapat membawa virus dan menularkannya ke orang lain atau tidak. Perlindungan terbaik satu sama lain sekarang adalah dengan terus mengikuti protokol kesehatan 5M, yaitu Mencuci tangan, Memakai masker, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan, dan Mengurangi mobilitas.
- Mitos: Vaksin COVID-19 dapat menyebabkan kemandulan.
Fakta: “Vaksin yang diberikan ke orang-orang tidak bisa menyebabkan kemandulan. Ini adalah rumor lama yang sering muncul juga pada banyak vaksin lain dan selama ini tidak pernah terbukti kebenarannya,” kata Kate seperti dikutip dari halaman resmi Twitter WHO, Senin (8/2/2021).”Tidak ada vaksin yang bisa menyebabkan kemandulan,” lanjutnya.
Sumber :
- Website resmi Centers for Disease Control and Prevention(CDC) : cdc.gov
- Website resmi World Health Organization (WHO) : who.int
- Website resmi Mayo Clinic : mayoclinic.org
(HY)