Peningkatan Insomnia Selama Pandemi Covid-19

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM V) insomnia adalah terganggunya siklus tidur normal seseorang setidaknya selama satu bulan atau lebih yang menyebabkan gangguan beraktivitas sehari-hari. Seseorang dikatakan insomnia apabila kesulitan memulai tidur (membutuhkan waktu lebih dari setengah jam untuk tertidur), kesulitan mempertahankan tidur (sering terbangun malam hari), tidur yang tidak bersifat menyegarkan, dan kelelahan di siang hari yang menyebabkan penderitaan klinis yang bermakna (rendahnya fungsi sosial dan pekerjaan) atau aktivitas keseharian mulai terganggu.
Peneliti dari University of Ottawa melakukan penelitian terhadap peningkatan kasus insomnia dimana dilakukan analisis terhadap hampir 190.000 partisipan yang terdampak oleh Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Dari analisis ini, tim peneliti mendapatkan bahwa tingkat depresi, kecemasan, dan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) tampak memburuk bila dibandingkan sebelum pandemi Covid-19, dan yang mengalami peningkatan terbesar adalah insomnia, yakni sebesar 23,87%. Terlebih lagi, di antara semua kelompok yang terdampak Covid-19, tenaga kesehatan mengalami peningkatan kasus insomnia tertinggi dengan angka 36,53%.
Penerapan lockdown ataupun social distancing demi mengurangi penyebaran virus Covid-19 tak dapat dipungkiri turut memberikan dampak pada perubahan gaya hidup dan hubungan sosial yang mengakibatkan peningkatan kecemasan pada beberapa orang. Cemas, stres, dan depresi dapat menyebabkan terganggunya pola tidur, peningkatan angka kejadian insomnia, peningkatan kekambuhan gejala insomnia, dan gangguan tidur lainnya. Hal ini terjadi karena sulitnya membatasi waktu istirahat dan waktu kerja selama masa isolasi di rumah sehingga berdampak pada jam tidur yang berpengaruh buruk terhadap siklus tidur, kontuinitas tidur, dan kualitas tidur.
Selain itu, penerapan work from home (WFH), pembelajaran daring, dan kegiatan lainnya yang semakin banyak mengharuskan penggunaan gawai juga berhubungan terhadap peningkatan kasus insomnia. Penggunaan gawai secara berlebihan dan kebiasaan membawa gawai ke tempat tidur dapat berdampak pada durasi penggunaan gawai. Keadaan ini membuat terganggunya pengaturan hormon melatonin yang berperan dalam mengatur jam tidur sehingga dapat menyebabkan insomnia bagi pengguna gawai. Hal ini dapat terjadi karena benda elektronik yang bersinar terang dan langsung menyorot pada mata dapat mengganggu kerja otak dan merusak sistem jam biologis tubuh. Cahaya tersebut dapat memicu atau menstimulasi otak untuk membuat kita terbangun, menunda keinginan untuk tidur, dan mengganggu pengaturan hormon. Hal-hal tersebut dapat mengakibatkan seseorang mengalami insomnia.

Dalam beberapa keadaan, banyak penderita yang tidak menyadari bahwa mereka menderita insomnia. Padahal, insomnia yang erat kaitannya dengan kondisi psikologis, dapat dijadikan langkah utama untuk mengatasi insomnia itu sendiri, misalnya dengan mengelola stres secara efektif (salah satunya dengan melakukan teknik relaksasi pernapasan dan berpikir positif), berolahraga rutin, menghindari kafein, alkohol, rokok, cokelat, makanan bercita rasa kuat maupun bersoda beberapa jam sebelum tidur, menghindari tidur siang (diperbolehkan maksimal 30 menit), dan sebisa mungkin mempertahankan jadwal tidur dan bangun teratur.
Sumber:
- Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada Volume 12, Nomor 2, Desember 2020. DOI: 10.35816/jiskh.v10i2.483.
- Jurnal Menara Medika Volume 3, Nomor 1, September 2020. [dapat dilihat di] https://jurnal.umsb.ac.id/index.php/menaramedika/index.
- Artikel Kesehatan RSUP Persahabatan. 2018. [dapat dilihat di] https://www.rsuppersahabatan.co.id/artikel/read/gangguan-tidur_.
- Artikel Kesehatan RS Hermina. 2020. [dapat dilihat di] https://herminahospitals.com/id/articles/insomnia-penyebab-dan-pencegahannya.
- Berita Kesehatan. 2020. [dapat dilihat di] https://republika.co.id/berita/qllh8p463/insomnia-meningkat-selama-pandemi-bagaimana-mengatasinya
Sumber Gambar :
- neton.id.
- hai.grid.id
(Annisa Fitriah)