Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (BEM KEMA FK Unhas) periode 2026–2027

Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (BEM KEMA FK Unhas) periode 2026–2027 resmi dipimpin oleh Muhammad Fiqri Adrizal sebagai Presiden BEM dan Lantar Maulana Anugerah Daiva sebagai Wakil Presiden. Mengusung semangat Metamorfosis, kepengurusan kali ini hadir dengan komitmen untuk menjadikan BEM sebagai ruang berkembang bagi mahasiswa, sekaligus sebagai wadah representasi dan advokasi yang mampu menjawab berbagai kebutuhan serta dinamika yang dihadapi mahasiswa FK Unhas. Melalui berbagai program kerja dan penguatan nilai Tridharma Perguruan Tinggi, kepengurusan ini berharap dapat mendorong mahasiswa untuk tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga aktif berkontribusi bagi organisasi dan masyarakat.
Secara umum, visi yang diusung oleh kepengurusan BEM Metamorfosis adalah menjadikan BEM sebagai ruang yang mampu mendorong mahasiswa untuk berkembang secara holistik, tidak hanya dalam bidang akademik tetapi juga dalam organisasi dan kontribusi sosial. Melalui visi tersebut, BEM diharapkan dapat menjadi wadah yang memfasilitasi mahasiswa untuk berpikir kritis, kreatif, serta berperan aktif sebagai agen perubahan di masyarakat.
Selain itu, kepengurusan ini juga menekankan pentingnya penguatan nilai Tridharma Perguruan Tinggi melalui program kerja yang mendukung pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Upaya kaderisasi yang berkelanjutan serta fungsi BEM sebagai pusat informasi, kepemimpinan, dan advokasi juga menjadi fokus utama dalam mewujudkan kesejahteraan mahasiswa dan memperkuat peran BEM sebagai representasi mahasiswa.
Perubahan yang diharapkan dari kepemimpinan BEM Metamorfosis adalah terciptanya BEM yang lebih inklusif, representatif, dan berdampak nyata bagi mahasiswa. BEM diharapkan dapat menjadi rumah bersama yang menampung serta memperjuangkan aspirasi mahasiswa melalui fungsi advokasi yang aktif dan responsif terhadap berbagai isu yang berkembang.
Selain itu, pengembangan mahasiswa juga diharapkan tidak hanya terfokus pada program kaderisasi formal tertentu, tetapi dapat menjangkau seluruh mahasiswa dengan berbagai kebutuhan dan potensi yang berbeda. Dengan demikian, kepemimpinan ini diharapkan mampu menghadirkan BEM yang lebih dekat dengan mahasiswa serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan dan pengembangan mahasiswa di lingkungan kampus.
Presiden dan Wakil Presiden BEM Metamorfosis berharap hubungan antara BEM dan mahasiswa dapat terbangun melalui komunikasi yang terbuka dan kolaborasi yang kuat.
“BEM tidak hanya diposisikan sebagai lembaga yang bekerja untuk mahasiswa, tetapi sebagai wadah yang bekerja bersama mahasiswa dalam menjalankan berbagai kegiatan serta menyelesaikan persoalan yang ada di lingkungan kampus,” ujar Presiden BEM Fiqri.
Melalui ruang diskusi yang sehat serta keterlibatan aktif mahasiswa, diharapkan BEM dapat menjadi tempat yang nyaman bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi dan berpartisipasi dalam proses pengambilan langkah bersama. Dalam hal ini, BEM juga berperan sebagai katalisator yang menjembatani aspirasi mahasiswa dengan berbagai pihak terkait.
BEM Metamorfosis menekankan pentingnya partisipasi aktif mahasiswa dalam menyukseskan setiap program yang dijalankan. Mahasiswa diharapkan tidak hanya hadir sebagai peserta kegiatan, tetapi juga turut berkontribusi melalui gagasan, pemikiran, serta keterlibatan langsung dalam berbagai proses organisasi.
Selain itu, BEM juga membuka ruang dialog yang terbuka agar mahasiswa dapat menyampaikan aspirasi maupun permasalahan yang dihadapi. Dengan adanya dukungan dan keterlibatan dari seluruh anggota KEMA, diharapkan program-program BEM dapat berjalan lebih efektif serta mampu memberikan dampak nyata bagi mahasiswa.
Presiden BEM Fiqri menyampaikan bahwa secara pribadi ia berharap dapat menjalankan posisi tersebut dengan penuh amanah. Ia ingin mengemban tanggung jawab itu dengan komitmen yang kuat atas pilihan yang telah diambilnya. Menurutnya, “kepemimpinan di BEM bukan hanya sekadar menjalankan jabatan, tetapi juga tentang memastikan organisasi dapat memberikan manfaat yang nyata bagi seluruh warga KEMA tanpa terkecuali.”
Di sisi lain, ia juga melihat BEM sebagai ruang pembelajaran bagi dirinya untuk berkembang sebagai seorang pemimpin. Melalui proses tersebut, ia berharap dapat terus belajar, bertumbuh, dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Presiden BEM Lantar menjelaskan bahwa harapannya sebagai pemimpin adalah tercapainya kesuksesan kepengurusan selama satu periode. Keberhasilan itu, menurutnya, tidak hanya diukur dari terlaksananya berbagai program kerja, tetapi juga dari tercapainya tujuan-tujuan KEMA secara lebih fundamental.
Lantar juga mengakui bahwa BEM merupakan salah satu ruang berproses, baik bagi dirinya maupun bagi Fiqri sebagai Presiden BEM. Namun, ia menegaskan bahwa organisasi ini tidak semata-mata dijadikan sebagai ruang pengembangan pribadi. Lebih dari itu, BEM harus menjadi wadah yang mampu memberikan kesempatan belajar dan pengalaman bagi seluruh anggota KEMA. Dengan demikian, berbagai proses yang terjadi di dalamnya diharapkan dapat berkontribusi pada terwujudnya tujuan bersama organisasi.
Di akhir masa kepengurusan nanti, keduanya berharap mahasiswa dapat mengingat BEM Metamorfosis sebagai organisasi yang “TRANSFORMATIF.” Keduanya menyampaikan bahwa berbagai harapan yang telah mereka sampaikan bertujuan untuk menghadirkan BEM yang mampu membawa perubahan positif. Mereka juga berharap seluruh warga KEMA dapat merasakan bahwa BEM merupakan organisasi yang inklusif, yang terbuka bagi semua mahasiswa tanpa terkecuali.