Salma Padmadipoera: Menembus Batas dengan Prinsip “Be the 1%” di Pilmapres Unhas 2026

Salma Padmadipoera: Menembus Batas dengan Prinsip “Be the 1%” di Pilmapres Unhas 2026

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin angkatan 2024, Raden Dewi Salma Khairunnisaa Nur Fathonah Padmadipoera, berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan dinobatkan sebagai Juara I Kategori Pratama pada ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat Universitas Hasanuddin 2026 yang diumumkan pada Kamis (2/4/2026). Pencapaian ini menjadi pembuktian atas konsistensi dan dedikasinya dalam mengembangkan potensi diri di tengah padatnya jadwal akademik kedokteran.

Dalam wawancara yang dilakukan pada Selasa (7/4/2026), Salma menyebutkan bahwa mengikuti Pilmapres bukan sekadar mengejar trofi, melainkan sebuah bentuk ujian bagi kapasitas dirinya.

“Prinsip saya adalah ‘Be the 1%’. Dari 100 orang dalam populasi, kita perlu menjadi berbeda dengan menjadi pribadi yang unik. Saya tidak harus terikut arus yang ada, tetapi bisa menjadi pribadi yang saya inginkan,” ujar Salma dengan mantap.

Ia menambahkan bahwa Pilmapres adalah sarana untuk mengukur sejauh mana ia bisa berkembang. “Prestasi itu bukan hanya soal memegang trofi di atas panggung, tapi bagaimana kita dapat memberikan dampak dan menginspirasi orang lain,” tambahnya.

Persiapan Salma ternyata telah dimulai jauh sebelum kompetisi ini berlangsung. Dari SMA, Salma sudah menekuni bidang fotografi dan penelitian hingga memiliki pengalaman riset di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sejak menjadi mahasiswa baru juga, ia telah bergabung dengan Talent Academy untuk memetakan capaian unggulannya secara strategis.

Sebagai mahasiswa kedokteran, kendala terbesar Salma adalah waktu. Dengan jadwal ujian yang hampir ada setiap minggu—bahkan terkadang bertepatan langsung dengan tes Pilmapres—ia dituntut untuk memiliki manajemen waktu yang luar biasa. Aktivitas yang padat ini justru menjadi “bahan bakar” bagi konsistensinya. “Kalau ada istilah kerja bagai kuda, di atasnya itu ada kerja bagai Salma,” tuturnya sambil bercanda, merujuk pada kebiasaannya untuk tetap produktif bekerja di mana pun, mulai dari bandara hingga stasiun kereta.

Bagi Salma, pada akhirnya prestasi adalah tentang pembentukan karakter. “Prestasi itu bukan hanya tentang menang, tetapi bagaimana kita membentuk diri melalui proses tersebut”.

Menutup wawancara, Salma memberikan pesan penyemangat bagi mahasiswa lain yang ingin mengikuti jejaknya. “Jangan menunggu merasa siap, justru dengan memulai, kita menjadi siap”.

Penulis : A. Divya Azzahra