Disebut Sebagai Obat Covid-19, Apa itu Avigan dan Klorokuin?

       Daruratnya kasus Covid-19 hari ini membuat pemerintah harus melakukan beberapa upaya untuk segera mengatasi masalah tersebut. Salah satunya dengan memesanan obat yang dianggap potensial mengatasi Corona virus dan telah berhasil dibeberapa negara yaitu obat klorokuin dan avigan. Lalu, apakah klorokuin dan avigan tersebut?

       Klorokuin dan avigan bukanlah obat baru. Klorokuin sejak dulu sudah digunakan sebagai obat anti-malaria dan obat autoimun seperti lupus. Klorokuin memang menjadi salah satu senyawa yang dianggap sebagai kandidat antivirus untuk Covid-19. Penelitian telah dilakukan oleh Wuhan Institute of Virology dari Chinese Academy of Sciences. Penelitian tersebut dilakukan oleh ahli virologi Manli Wang bersama timnya, dan telah dipublikasikan dalam jurnal Nature. Berdasarkan penelitian awal, klorokuin dapat menghambat kemampuan virus baru untuk menginfeksi dan tumbuh di dalam sel saat diuji pada kera.Klorokuin dapat memblokir infeksi virus dengan mengganggu kemampuan beberapa virus untuk memasuki sel. Namun, mengingat bahaya dari efek samping yang ditimbulkan oleh obat klorokuin maka perlunya uji klinis untuk dapat menetapkan klorokuin sebagai obat untuk melawan virus corona. Pakar Farmakologi & Clinical Research Supporting Unit FKUI, dr. Nafrialdi mengatakan β€œItu mungkin hanya sinyal awal, tapi jangan langsung diterjemahkan bisa langsung dipakai. Perlu dilakukan serangkaian uji klinis untuk bisa menyatakan obat antimalaria menjadi obat virus corona,” Kamis (12/3/2020). Mengingat banyaknya kasus resisten malaria di sejumlah wilayah, termasuk Papua. Selain itu, klorokuin juga harus digunakan dengan baik mengingat obat ini dapat menyebabkan efeksampingdiare, sakit kepala, ruam pada kulit, anemia, bahkan resiko kebutaan permanen.

       Sedangkan avigan atau Favipiravir adalah obat antivirus dari Jepang yang dikembangkan oleh perusahaan Jepang, yaitu Fujifilm Toyama Chemical, dan diproduksi oleh Zheijang Hisun Pharmaceutical.Pada dasarnya, avigan adalah obat yang digunakan untuk mengobati viruz influenza. Namun, peneliti pemerintah China mengumumkan bahwa favipiravir atau avigan efektif dalam penanganan infeksi virus corona (COVID-19). Kesimpulan ini diumumkan langsung oleh Zhang Xinmin, selaku direktur National Center for Biotechnology Development, di Beijing pada hari Selasa (17/3).  Dilansir dari NHK Japan, uji obat tersebut dilakukan di dua kota di China, yakni kota Wuhan yang menjadi asal merebaknya virus corona baru, serta di kota Shenzhen. Uji favipiravir dilakukan dengan melibatkan 240 pasien di Wuhan dan 80 pasien di Shenzhen. Adapun hasil dari uji coba tersebut adalah :

  1. Suhu tubuh pasien

Pengujian favipiravir di Wuhan menemukan bahwa obat tersebut membantu mengembalikan suhu pasien menjadi normal dalam rata-rata waktu 2,5 hari. Sementara itu, suhu tubuh pasien yang tidak diberikan favipiravir membutuhkan 4,2 hari agar kembali normal.

  1. Batuk pada pasien

Zhang Xinmin juga menambahkan, batuk pada pasien yang diberikan favipiravir bisa reda dalam rata-rata waktu 4,57 hari. Sementara itu, batuk pada pasien yang tidak diberikan obat ini membutuhkan waktu sekitar 5,98 hari untuk reda.

  1. Status positif COVID-19

Dalam uji yang dilakukan di Shenzhen, dilaporkan bahwa status pasien yang positif COVID-19 bisa kembali negatif dengan median 4 hari setelah diberikan favipiravir. Sedangkan pasien yang tidak diberikan obat ini membutuhkan waktu median 11 hari untuk kembali negatif.

  1. Peningkatan kondisi paru-paru

Uji coba favipiravir ini juga menemukan, hasil uji Sinar-X pasien yang diberikan obat ini mengalami peningkatan kondisi paru-paru hingga 91%. Pasien yang tidak mengonsumsi favipiravir mengalami peningkatan 62%.

       Walau sangat berpotensi untuk mengobati infeksi virus corona, favipiravir belum tentu efektif pada pasien yang memiliki gejala dan sakit yang lebih parah, seperti yang dilansir dari Daily Mail.Dalam jurnal Antiviral Research, favipiravir atau yang awalnya dikenal T-075 merupakan obat antivirus yang dapat menghambat enzim RNA-dependent RNA polymerase (RdRP) pada virus influenza.Virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19 memang memiliki materi genetik utama RNA. Menurut jurnal Proceedings of Japan Academy, Ser.B, dan Physical and Biological Science, tertulis bahwa tanpa adanya enzim utuh, virus tidak dapat menggandakan materi genetik secara efisien dalam sel inang.Selain itu, Obat ini ditemukan mampu menghambat semua serotipe dan strain virus influenza A, B, dan C, termasuk pada pasien yang resisten terhadap obat penghambat neuraminidase. Uji in vitro dan uji pada hewan juga menyebutkan, favipiravir mampu melawan jenis-jenis virus lain, seperti flavivirus.

       Selain pemesanan obat,dalam rangka percepatan penanganan Covid-19 pemerintah juga mengumumkan akan menerbitkan peraturan baru yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada Rabu (1/4/2020). Presiden RI menegaskan lebih memilih PSBB disbanding dengan lockdown agar aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan walaupun tetap menerapkan physical distancing.

Sumber ( https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28769016)

Sumber gambar (https://img.koropak.co.id/cover/presiden-jokowi-pesan-jutaan-obat-untuk-pasien-corona.JPG)

( IC & DHR )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *