Persimpangan Jalan


Oleh : Tastosca

Dalam menjalani hidup, manusia ibarat melakukan sebuah perjalanan. Dan jalan itu tak pernah lurus begitu saja. Di ujung sana, ia akan menemukan persimpangan. Maka saat itu ia harus sadar, perjalanannya tak hanya sampai di situ. Masih panjang jalan yang harus ia tempuh. Apabila ia terus melangkah maju, maka ia akan menemui persimpangan berikutnya, berikutnya, dan berikutnya. Serta satu hal yang pasti, persimpangan itu akan menjadi saksi ketika ia harus memilih kemana langkah kakinya akan terus melaju.

Di usianya yang baru menginjak usia remaja, Atiqah Zahra Ratifa mulai menapaki kehidupannya melewati jalan yang lurus tanpa ada masalah yang berarti. Pribadinya membuat iri banyak remaja seusianya. Zahra begitu sapaan akrabnya, gadis yang pintar, baik, ramah serta berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia mudah bergaul, sama sekali tak pernah memilih dalam berteman. Hal inilah yang menyebabkan Zahra banyak disukai oleh teman-temannya.

Masa remaja yang dilalui oleh Zahra adalah masa-masa yang terindah. Semuanya berjalan begitu lancar. Mungkin sebagian orang yang mengenal Zahra merasa bahwa masalah seolah enggan menghampiri Zahra. Namun hakikatnya tak selamanya yang terlihat oleh panca indera selalu terlihat sesuai harapan pemiliknya.

Putra Aditya Daffa, nama yang lima tahun terakhir tak pernah lagi ia dengar, tiba-tiba muncul lagi dalam kehidupannya. Hal ini tentu membawa pengaruh bagi hidup Zahra. Lima tahun yang lalu sejak Daffa ikut orang tuanya pindah ke Surabaya karena tuntutan pekerjaan, memang tak pernah ada lagi komunikasi antara mereka. Umur mereka yang masih belia masih belum mampu untuk mengerti keadaan saat itu. Namun Zahra tak akan pernah lupa dengan sosok Daffa, anak laki-laki yang mengantarnya pulang ke rumah kala ia duduk menangis di taman karena terjatuh dari sepeda. Sejak saat itu mereka menjadi sahabat yang sangat dekat dan kompak. Sampai akhirnya keadaan memaksa mereka harus berpisah.

Tak bisa Zahra pungkiri, hadirnya kembali sosok Daffa memberikan perasaan senang dalam hatinya. Meski telah terpisah lama, seperti ada ikatan tak terlihat yang menghubungkan mereka. Hubungan mereka mungkin tak akan sedekat saat mereka masih belia. Namun semua pun tahu sikap Zahra ke Daffa berbeda dengan sikapnya ke teman-temannya yang lain. Pada satu waktu, Zahra sadar jika tak seharusnya ia seperti itu. Meski awalnya komunikasi mereka hanya terbatas di lingkup sekolah, namun, lama-kelamaan komunikasi itu terus berlanjut hingga pada suatu hari, Zahra begitu dikejutkan dengan sepenggal kalimat yang ia lihat di layar ponselnya. Tertulis nama Daffa.

Aku suka sama kamu Zahra.” Begitulah isi sepenggal pesan pendek yang masuk kedalam inbox ponsel Zahra. Satu kalimat yang saat itu benar-benar mengusik kehidupan Zahra yang tadinya mulus tanpa adanya rintangan yang menghadang. Zahra ibaratnya kini telah sampai di penghujung jalan, berdiri pada persimpangan jalan itu. Ia tak tahu jalan mana yang harus ia pilih.

Zahra memutuskan untuk tetap terdiam di persimpangan tersebut. Ia masih bimbang. Tak ada keberanian mengambil keputusan dan menerima resiko jika ia salah jalan. Ia memutuskan untuk tidak membalas pesan pendek dari Daffa. Ia yakin setelah ia menerima pesan pendek itu, hubungan Zahra dan Daffa tak lagi seperti dulu. Seperti terlihat sebuah tembok tinggi yang menjadi penghalang untuk mereka. Ya, komunikasi mereka tak senyaman dulu lagi.

Zahra sama sekali tak suka dengan keadaan ini. Ia merasa bersalah mengabaikan pesan Daffa. Daffa memang tak pernah menuntut apa-apa. Ia tahu persis bagaimana kepribadian Zahra. Ia sudah tahu sebelumnya bahwa dengan ia mengatakan itu, ia tak akan mendapat respon yang baik dari Zahra. Apalagi sekarang Zahra aktif dalam kegiatan keagamaan. Hanya saja, Daffa sudah tak sanggup menyimpan perasaan itu terlalu lama. Dan ia memutuskan untuk mengungkapkannya.

Daffa tak pernah ingin apabila tali yang begitu kuat antara mereka kini putus begitu saja. Makanya, Daffa selalu megirim pesan kepada Zahra, meskipun Zahra hanya membalas sekadarnya saja. Sebenarnya dalam hati kecil Zahra, ia juga tak bisa terus berada dalam posisi seperti ini terus. Ia tak ingin berhenti terlalu lama di persimpangan itu. Karena masih banyak persimpangan lagi yang harus ia lewati. Ia akhirnya memutuskan jalan yang mana yang harus ia pilih. Ia mulai luluh. Ia mulai merespon pesan pendek yang selalu dikirim Daffa.
Assalamu alaikum”
“Waalaikumsalam”
“Kamu lagi ngapain?”
“Lagi nonton”
“Kamu udah shalat? Shalat dulu”
“Iya. Kamu juga”
Seperti itulah sepenggal pesan antara Daffa dan Zahra. Sekilas memang tak ada yang spesial. Namun, selalu berkomunikasi dengan Zahra saja sudah lebih dari cukup bagi Daffa.

Zahra kini telah melanjutkan perjalanannya. Ia telah menentukan pilihannya. Ia harus tetap melangkah maju ke depan. Ia telah memilih jalannya sendiri. Artinya, ia harus menjalani itu. Keadaan Zahra dan Daffa yang seperti itu terus berlanjut. Lama-kelamaan, muncul perasaan yang Zahra sendiri tak mengerti arti dari perasaan tersebut. Zahra tak tahu sejak kapan perasaan itu mulai menggerogoti hatinya. Namun ia tak pernah mencegah datangnya perasaan itu.
* * *

“Cinta adalah sebuah rasa yang diciptakan oleh Allah SWT untuk dinikmati oleh setiap manusia di dunia. Cinta adalah fitrah bagi setiap manusia. Justru jika manusia tak punya cinta, maka dia boleh dikatakan tidak normal, apalagi di masa-masa remaja seperti yang kita lalui saat ini.” Ujar kak Tiara, salah satu kakak senior Zahra di salah satu organisasi keagamaan yang diikuti oleh Zahra .

“Tapi kan kak dalam pandangan Islam kita dilarang untuk berhubungan dengan lawan jenis.” Komentar Vivi, salah satu rekan Zahra dalam organisasi itu.

“Begini yah adik-adik, tak pernah ada larangan wanita dan pria berhubungan. Hanya saja, berhubungan disini dalam tanda kutip hubungan kalian masih dalam batas yang wajar. Jangan pernah sama sekali melanggar aturan agama kita. Jangan pernah ada kontak fisik antara kalian dengan lawan jenis.” jawab kak Tiara.

“Kak, aku mau nanya. Kalau misalnya kita suka seseorang, bagaimana sikap yang seharusnya kita ambil?” tanya Zahra seakan ingin mengetahui lebih banyak tentang perasaan yang akhir-akhir ini mulai mengusik kehidupannya.

Percakapan dalam kajian islami tadi benar-benar telah mengusik hati dan pikiran Zahra. Ia kini sadar, keputusan yang ia ambil selama ini ternyata salah. Ia telah melanggar aturan. Namun, ia tak dapat kembali lagi. Ia telah jauh melangkah. Perasaannya kepada Daffa sudah terlalu kuat. Dan Daffa juga sudah terlanjur mengetahui perasaanya itu. Namun, tak pernah ada komitmen yang terlontar dari keduanya. Hubungan mereka masih terus berlanjut seperti itu. Daffa masih belum berani mengajak Zahra untuk membuat komitmen karena ia yakin Zahra tak akan mau. Apalagi Daffa tahu, sekarang Zahra sedang aktif dalam organisasi keagamaan di sekolahnya. Sampai pada suatu hari, Zahra benar-benar telah menyesali keputusan awalnya.

Eh, mau dengar gosip baru nggak?” ucap Fira, salah satu teman kelas Zahra.
“Iya iya. Emang ada apa?” jawab Syifa tak mau ketinggalan berita.
“Daffa sama Vivi jadian” lanjut Fira.
Beneran? Sejak kapan?.” Respon Syifa kemudian.
“Iya. Kata orang sih udah lama. Sekitar sebulan yang lalu. Udah ah, ke kantin yuk

Fira dan Syifa akhirnya berlalu ke kantin meninggalkan Zahra yang kini duduk terpaku di bangkunya. Ia mendengar semuanya.

Kata orang sih udah lama. Sekitar sebulan yang lalu.” Masih terekam jelas kata-kata Fira dalam ingatan Zahra. Ia berusaha tak menghiraukan apa yang barusan didengarnya. Sebulan? tak mungkin. Seminggu, bahkan baru sekitar 3 hari yang lalu Daffa masih selalu menghubungi Zahra. Walaupun memang tak pernah ada yang spesial dari percakapan mereka melalui ponsel itu.

Semenjak mendengar percakapan itu, hati Zahra selalu terusik. Namun tak ada yang menyadari hal itu. Zahra memang sangat ahli dalam menyembunyikan perasaannya. Senyum ramah yang selalu mengembang dari bibirnya ternyata mampu menipu setiap orang yang memandangnya. Canda tawanya ternyata mampu menutupi luka dalam hatinya. Namun ia tak pernah berani bertanya langsung ke Daffa. Entah kenapa, ia tak pernah sanggup untuk mengatakannya. Mungkin ia belum siap, apalagi jika harus mendengar langsung dari Daffa.

Namun semakin lama semakin jelas. Berita itu tak lagi sekali dua kali ia dengar, bahkan sampai berkali-kali. Zahra kini telah berada pada persimpangan yang kedua. Ia tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Ia telah membuat keputusan. Dan ia berharap, inilah keputusan yang paling baik. Zahra tak dapat menyimpannya lagi. Ia tak ingin selalu membebani pikirannya. Ia tak ingin, masalah seperti ini mengganggu pelajarannya. Ia tak ingin, hanya karena cinta yang belum pasti, akan menghalangi ia untuk menggapai cita-citanya. Ia bertekad, mulai sekarang tak akan ada lagi komunikasi antara ia dan Daffa. Kecuali memang jika ada sesuatu yang dirasa perlu dan penting.
* * *

Ponsel Zahra bergetar, ternyata pesan dari Daffa.
Assalamualaikum” Zahra membaca pesan di layar hpnya. Zahra pikir, inilah waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya. Ia mulai mengetik.

Waalaikumsalam. Ada apa Daf? Kalau Cuma untuk basa-basi aku kira udah cukup Daf. Kamu udah ada Vivi. Aku nggak enak sama dia. Kamu nggak usah sms aku lagi. Aku harap hubungan kalian langgeng” Begitulah kira-kira pesan yang dikirimkan Zahra. Butuh waktu beberapa menit sebelum ia mengirim pesan itu. Ia perlu berpikir beberapa kali.

Tak beberapa lama, “Aku nggak bisa Zahra, aku masih suka sama kamu.” Zahra benar-benar tidak menegerti jalan pikiran Daffa. Ia tak pernah menyangka, akhirnya akan seperti ini.

“Aku nggak bisa Daf”, hanya itu yang dapat Zahra lakukan untuk terus meyakinkan Daffa. Dan pada akhirnya, Daffa menyerah.

Terserah kamu Zahra, aku udah nggak bisa paksa kamu lagi”. Ya, itulah pesaan terakhir Daffa yang masuk dalam inbox ponsel Zahra.
* * *

Zahra tak pernah menyalahkan Daffa. Mungkin, Daffa merasa jenuh dengan keadaan mereka. Zahra harus mengerti hal itu. Karena bagaimanapun dan sampai kapan pun, Zahra tak akan pernah mau melanggar aturan agama dengan pacaran. Zahra juga sama sekali tak pernah menyesal pernah suka pada Daffa, meski pada akhirnya ia harus merasakan pedih dan luka. Justru ia merasa beruntung pernah mencecap perasaan cinta

Mungkin, banyak yang berpikiran bahwa seseorang tak akan pernah mengerti akan perasaan cinta, dan tak akan pernah merasakan manisnya masa remaja tanpa pernah merasakan pacaran. Namun Zahra telah mematahkan pandangan itu. Justru, banyak sekali pengalaman yang telah didapatkan Zahra dengan apa yang telah dialaminya. Dan tentunya ia dapatkan tanpa harus merasakan pacaran. Mulai saat ini, Zahra bertekad untuk menyimpan dalam-dalam apabila ia kembali memiliki rasa yang sama. Ia tak ingin membuat kesalahan yang sama, serta kembali memilih jalan yang salah. Cukup satu kali ia merasakannya, karena butuh waktu yang lama meyembuhkan luka yang telah menggores hatinya. Dan ia teringat kalimat dari kak Tiara

Ya, kalau kalian memang berjodoh, pasti nanti ada jalannya kok. Daripada kalian mengekspresikannya lewat pacaran, nanti bukannya kalian saling mencintai karena Allah. Yang muncul hanyalah nafsu belaka. Sudah berdosa, belum tentu juga itu jodoh kalian”.

Dalam mengambil keputusan, Zahra kini selalu memohon petunjuk Allah SWT, karena boleh jadi, yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, dan yang buruk menurut kita belum tentu buruk menurut Allah.
* * *

Hidup adalah pilihan. Manusia seakan berada pada persimpangan jalan. Ia yang harus menentukan sendiri jalan mana yang harus ia tempuh untuk sampai ke tempat tujuan. Ia harus berpikir dengan matang serta memerhatikan berbagai pertimbangan sebelum memutuskan jalan mana yang harus ia tempuh. Setidaknya, itulah makna kehidupan yang baru saja dimengerti oleh seorang Atiqah Zahra Ratifa. SELESAI

Gambar : www.kompasiana.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *