Hari Demam Berdarah Nasional, Indonesia Masih Perlu Waspada
Walaupun dunia sedang sibuk menyelesaikan wabah pandemi Covid-19 yang takkunjung berakhir,demam berdarah yang merupakan salah satu penyakit endemik di Indonesia tidak boleh dilupakan.
Setiap tanggal 22 April, Indonesia memperingati Hari Demam Berdarah Nasional. Hal ini menjadi salah satu upaya pemerintah memberantas Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan cara melakukan sosialisasi tentang bahaya demam berdarah dan cara pencegahannya agar masyarakat menjadi lebih perhatian untuk melakukan pencegahan DBD.
Salah satu upaya untuk memutuskan rantai penularan pada suatu daerah dilakukan dengan gerakan 3M Plus yaitu : Menutup, Menguras, Menyingkirkan atau Mendaur Ulang, serta Plus untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk seperti menaburkan bubuk larvasida, menggunakan obat anti nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk dan menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah.
Peningkatan kasus demam berdarah biasanya berhubungan dengan datangnya musim penghujan di Indonesia. Pada tahun 2020, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menyatakanbahwa kasus DBD di Indonesia pada Januari-Juli 2020 mencapai 71.633 kasus. Angka ini jika dibandingkan tahun 2019 terbilang rendah karena pada tahun 2019 ditemukan sebanyak 112.954 kasus.Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid menyebutkan bahwa terdapat 10 provinsi yang berpotensi endemis tinggi, dengan Provinsi Jawa Barat melaporkan kasus terbanyak yaitu 10.772 kasus.
Demam Berdarah Dangue atau DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi virus dengue, khususnya Aedes Aegypti dan Aedes Albocpictus. Nyamuk ini aktif menggigit manusia antara jam 10-12 siang. Gigitan nyamuk bisa menyerang semua kelompok umur, akan tetapi angka kasus DBD cenderung menyerang kelompok usia remaja. Masa inkubasi ekstrinsik (di dalam nyamuk) virus dengue berlangsung sekitar 8-10 hari sedangkan masa inkubasi intrinsik (di dalam manusia) yaitu selama 3-14 hari sebelum gejala klinis muncul. Rata-rata gejala klinis akan muncul pada hari keempat sampai ketujuh.
Gejala dan tanda klinis yang bisa terjadi pada pasien penderita DBD adalah sebagai berikut:
- Demam
Pasien DBD umumnya memiliki keluhan utama yaitu demam tinggi yang mendadak (biasanya lebih dari 39oC) selama 2-7 hari secara terus menerus.
- Tanda Perdarahan
Demam berdarah juga ditandai dengan adanya perdarahan baik yang spontan (petekie, purpura, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, dan melena) maupun melalui uji tourniquet/tes Rumple Leede (uji bendung untuk menguji ketahanan pembuluh darah kapiler). Petekie ini terkadang sulit dibedakan dengan bekas gigitan nyamuk. Oleh karena itu untuk membedakannya lakukan penekanan pada bintik merah dengan menggunakan kaca objek/penggaris plastik transparan/meregangkan kulit. Jika bintik merah menghilang saat ditekan berarti bintik tersebut bukanlah petekie.
Penyebab dari munculnya tanda perdarahan pada pasien DBD ialah vaskulopati (kelainan pembuluh darah), trombositopenia (kadar trombosit dalam darah di bawah normal) dan gangguan fungsi trombosit serta terjadinya koagulasi intravaskular (kondisi gangguan aliran darah yang ditandai dengan pengentalan darah yang berlebihan sehinga menyebabkan sumbatan/trombus pada pembuluh darah) yang menyeluruh.
- Syok
Syok adalah keadaan yang terjadi bila aliran oksigen ke jaringan tidak adequat (tidak cukup). Hal ini bisa diantisipasi dengan menyadari adanya Warning Sign atau tanda bahaya yang dapat dilihat pada penderita DBD seperti:
- Demam menurun tapi keadaan penderita memburuk
- Nyeri perut dan nyeri tekan pada perut (abdomen)
- Muntah yang terus menerus
- Gelisah dan letargi
- Perdarahan pada mukosa
- Hepatomegali (pembesaran hati)
- Akumulasi cairan
- Oligouria (kondisi ketika jumlah urin yang keluar sedikit,<400 cc)
- Peningkatan kadar hematokrit bersamaan dengan penurunan cepat jumlah trombosit
- Hematokrit di awal tinggi
Pasien DBD yang mengalami syok akan memunculkan tanda dan gejala berupa peningkatan denyut jantung (takikardia) yang lemah, peningkatan frekuensi napas (takipnea), penurunan tekanan darah (hipotensi) serta kulit terasa lembab dan dingin.
- Gejala/tanda penyerta
Pasien yang menderita DBD juga mengeluhkan beberapa gejala penyerta seperti sakit kepala (cephalgia), nyeri belakang bola mata (ophthalmalgia), mual (nausea) dan juga nyeri otot (mialgia).
Hingga saat ini, belum ada obat-obatan khusus untuk mengobati DBD, namun pertolongan pertama yang dapat diberikan pada penderita DBD yaitu dengan istirahat, minum banyak cairan (1-2 liter/hari) untuk mencegah dehidrasi yang berujung pada penurunan trombosit, serta mengompres seluruh badan terutama di bagian ketiak dan selangkangan atau mengonsumsi parasetamol untuk meredakan gejala demam. Apabila terdapat kejang jaga lidah penderita agar tidak tergigit, melonggarkan pakaian penderita dan tidak memberikan apapun lewat mulut selama kejang. Apabila dalam 2-3 hari demam belum kunjung turun dan didapatkan tanda perdarahan maka periksakanlah pasien ke dokter atau unit layanan pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pertolongan.
Sumber:
www.kemkes.go.id
promkes.kemkes.go.id
Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue di Indonesia, Kemenkes 2017
(FDS)