Yuk, Jangan Normalisasi Cemas Berlebih!

     

       Generalized Anxiety Disorder (GAD) atau gangguan kecemasan menyeluruh merupakan suatu keadaan psikiatri yang paling sering ditemukan di seluruh dunia. Dimana penderita mengalami kecemasan dan rasa khawatir berlebih, tidak rasional, bahkan terkadang tidak realistik dan dialami hampir sepanjang hari, berlangsung sekurang-kurangnya selama 6 bulan. Keberadaan pandemi COVID-19 yang telah berlangsung kurang lebih 8 bulan terbukti meningkatkan prevalensi GAD. World Health Organization menyatakan bahwa selama pandemi, sekitar 5,4% populasi global mengalami gangguan kecemasan. Angka ini meningkat dibandingkan sebelum pandemi yang hanya berkisar 3,8%.  Hal ini menunjukkan begitu besarnya dampak pandemi terhadap kesehatan mental terutama gangguan kecemasan masyarakat. Di Indonesia, GAD berada di posisi pertama sebagai penyakit mental tersering. Berdasarkan survei Puslitbangkes Kemenkes 2020, sekitar 6,8% masyarakat Indonesia mengalami gangguan cemas dan dari angka tersebut 85,3% tidak memiliki riwayat gangguan psikiatri sebelumnya dan sekitar 50% penderita gangguan cemas menyeluruh menderita gangguan depresi mayor yang berkaitan dengan percobaan bunuh diri.

       Selama pandemi, banyak kejadian tidak mengenakkan di masyarakat, seperti pemutusan hubungan kerja, kehilangan anggota keluarga, dan hal kecil seperti social distancing yang mengharuskan masyarakat stay at home dan hanya bertemu secara online. Selain itu, banyaknya berita dan kekhawatiran yang terebar melalui media turut meningkatkan kecemasan masyarakat terus-menerus yang dapat berujung pada gangguan kecemasan menyeluruh. Pandemi yang belum berujung memungkinkan peningkatan prevalensi tiap harinya. Gangguan ini dapat mengganggu kinerja individu penderita, kehidupan keluarga, dan gangguan sosial lainnya. Hal ini dapat dicegah dengan menjauhi faktor risikonya sehingga masyarakat perlu untuk mengerti dan memahami gangguan kecemasan ini. Dengan adanya edukasi, masyarakat dapat mengerti cara untuk terhindar dari gangguan ini sehingga dapat menurunkan prevalensinya di masyarakat.

       Secara spesifik, DSM-5 menjelaskan bahwa Generalized Anxiety Disorder merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami kecemasan berlebihan hampir setiap hari dalam jangka waktu setidaknya enam bulan dan penderita sulit mengendalikan perasaan cemas. Perasaan cemas yang mendominasi akan memengaruhi kehidupan sehari-hari, termasuk pekerjaan dan kecemasan tersebut tidak ada kaitannya dengan kondisi psikologis lain. Gangguan ini meningkat di masyarakat seiring dengan pandemi sehingga memberikan begitu banyak dampak negatif bagi masyarakat. Hal ini dapat terjadi karena aktifitas stress berlebihan pada area otak yang terlibat dalam pengaturan emosi dan tingkah laku. Dalam situasi ini, kebanyakan masyarakat akan merasa tertekan dengan PSBB yang berlaku, sehingga sangat memungkinkan masyarakat merasakan cemas berlebih ditambah dengan keberadaan berita-berita seputar pandemi yang menekan pikiran masyarakat sehingga memicu terjadinya GAD. Bukan hanya peningkatan prevalensi yang menjadi fokus permasalahan karena gangguan ini juga ternyata dapat menyerang semua umur, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Untuk itu, berbagai hal dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya GAD, seperti menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan positif.

 

 

Ditulis oleh :

Jeane Kinanti Tandung as Top – 12 Finalists Ambassador of Public Health AMSA – Indonesia 2020/2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *