[KAJIAN ISU] BAGAIMANA KONDISI INDONESIA SETELAH PANDEMI? – BEM FK UNHAS

Hampir satu tahun lamanya dunia diguncangkan dengan pandemi Coronavirus disease 2019 (COVID-19). Masyarakat yang tinggal di daerah yang terdampak mau tidak mau harus mengikuti peraturan tertentu pemerintah setempat, dalam menjalani kehidupan sehari-hari demi memutus tali penularan virus corona. Peraturan tersebut tentu saja membawa berbagai perubahan dari kehidupan masyarakat sebelum pandemi COVID-19. Pandemi COVID-19 tentu saja menjadi perhatian bersama terlebih penyakit ini telah memberikan dampak yang cukup berarti dalam segala aspek kehidupan, termasuk memberi kecaman yang cukup serius di bidang ekonomi serta kesehatan. Kemudian timbul pertanyaan “Bagaimana Indonesia setelah pandemi?”.
Kamis (05/11/2020) , Kementerian Kajian Strategi dan Advokasi (KASTRAD) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin menggelar kegiatan Kajian Isu dengan tajuk “Indonesia Setelah Pandemi”. Kajian Isu ini digelar dalam jaringan (daring) via aplikasi Zoom tepatnya pukul 20.00 WITA sampai selesai. Kegiatan yang mencapai lebih dari 200 peserta ini dipandu oleh Muh. Radjadhilah S. dan mengundang Dr. dr. Andi Alfian Zainuddin, MKM sebagai narasumber.
Pada awal acara, moderator menjelaskan latar belakang dari dilaksanakan kajian isu yang membahas mengenai pandemi COVID-19 ini. Pada kesempatan tersebut, moderator menjelakan bahwa sebelum adanya COVID-19, ekonomi di Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan yang positif serta stabil di level 5%-5.5% yang menjadi daya tarik bagi investor untuk menanam saham di Indonesia. Memasuki bulan Maret, COVID-19 masuk wilayah Indonesia yang kemudian menjadi pandemi yang sangat besar dan mengancam negara-negara termasuk Indonesia pada sektor ekonomi-kesehatan dan ekonomi-global. Di awal masuknya pandemi COVID-19 , penanggulangan yang tidak cukup tanggap dari pemerintah membuat para investor asing menarik modalnya akibat krisis kesehatan yang bedampak pada berbagai sektor perekonomian di Indonesia.
Pada saat sesi materi, Dr. dr. Andi Alfian Zainuddin, MKM menjelaskan bahwa pandemi COVID-19 banyak mengubah paradigma terhadap pandangan dunia, kebijakan pemerintah, dan kebiasaan manusia. Beliau menjelaskan perubahan yang terjadi dalam lingkup dunia kesehatan “Salah satu indikator rumah sakit adalah kepatuhan cuci tangan petugas, dan itu sangat meningkat di era COVID-19” jelas dr. Alfian. Selain itu, Dr. dr. Andi Alfian Zainuddin MKM juga menjelaskan langkah-langkah menahan rute infeksi COVID-19 yang dilakukan yaitu meliputi : pembatasan transportasi umum, pembatasan aktivitas pendidikan, pembatasan aktivitas keagamaan, penutupan fasilitas publik, serta pembatasan jarak antrian saat membeli kebutuhan pokok dan pemeriksaan kesehatan. Beliau juga menyampaikan bahwa Indonesia sepertinya menghadapi kemungkinan swoosh-shaped recovery atau akan membutuhkan waktu yang cukup panjang dan lama untuk pulih kembali.

Alasan mengapa Indonesia kemungkinan mengalami swoosh-shaped recovery dijelaskan oleh dr. Alfian karena kuliatas pertumbuhan Indonesia kian turun dimana sektor penghasil barang (pertanian, pertambangan, dan industri manufaktur) hanya tumbuh 0.4% di triwulan I 2020, dan sulitnya menangkap peluang pergeseran global supply chain dari Cina karena indeks partisipasi dalam GVC terendah di ASEAN. Selama pandemi COVID-19, hanya ada 3 sektor yang menikmati laju pertumbuhan di atas angka 0 yakni sektor Jasa Keuangan dan Asuransi sebanyak 4.1, disusul sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 1.7, kemudian sektor Informasi dan Komunikasi sebanyak 0.4.
Sesi diskusi cukup interaktif dengan berbagai pertanyaan menarik yang disampaikan oleh peserta kajian. Ketika ditanya mengenai bagaimana tips untuk menghindari rasa bosan setelah melalui berbulan-bulan masa pandemi, dr. Alfian menyarankan untuk memanfaatkan media komunikasi virtual seperti Zoom atau WhatsApp Call untuk sekedar berbagi cerita dengan teman-teman, ataupun hanya menanyakan kabar “Walaupun via telepon, tetap menandakan bahwa kita masih bisa beraktivitas sosial” jelasnya. Bisa juga untuk melepas penat atau kebosanan saat di rumah, dengan melakukan aktivitas seperti bersepeda namun tetap hindari kerumunan, jaga jarak, pakai masker, dan cuci tangan. Kemudian, lewat jawaban dari pertanyaan salah satu peserta, Dr. dr. Andi Alfian Zainuddin kembali mengingatkan bahwa sebagai tenaga kesehatan harus mampu menjalin komunikasi yang baik dengan orang di sekitar termasuk dalam memberi edukasi mengenai COVID-19. Di tengah pandemi COVID-19 dengan berbagai isu seperti adanya anggapan bahwa COVID-19 adalah hal yang tidak nyata, dr. Alfian kembali menegaskan pentingnya menjaga sikap seorang dokter sesuai dengan Five Star Doctor yaitu dokter sebagai health care provider, decision maker, community leader, manager dan communicator.
Saat dihubungi setelah kegiatan usai, Hijriatun Nisa sebagai salah satu anggota teamwork pelaksana Kajian Isu menceritakan kendala yang mereka alami selama persiapan acara seperti informasi mengenai akan diadakannya kajian isu yang baru disampaikan empat hari sebelum hari H memberikan kendala dalam penyediaan pamflet kegiatan, rundown acara, serta sertifikat yang harus jadi dalam semalam “Tetapi teamwork lainnya sama-sama berusaha untuk menyiapkan semua, jadi Alhamdulillah pelaksanaannya berjalan lancar” jelasnya. Ia juga mengungkapkan harapannya setelah diadakannya kajian isu ini yaitu semoga peserta yang berpartisipasi dapat benar-benar memperoleh esensi dari kajian atau setidaknya ada hal baru yang dapat menjadi pelajaran untuk semua partisipan dalam menghadapi pandemi ini. “Selain itu, saya berharap lebih banyak lagi yang antusias untuk mengikuti kajian isu selanjutnya”tutupnya.
(DHR)
Sumber gambar : screenshot saat kegiatan berlangsung