Hand Speak Word – AMSA Unhas
Pernahkah Anda melihat orang-orang dengan keterbatasan pendengaran atau istilahnya tuna rungu? Bagaimana mereka berkomunikasi? Tahukah Anda, kalau kata tuli bukanlah kata kasar bagi mereka yang tuna rungu? Melainkan suatu identitas dan kebanggaan dengan bahasa isyarat, menunjukkan kemajuan dan kemampuan berfikir yang luas. Tidak ada rasa kasihan atau minder dari mereka, meski cara berkomunikasi yang berbeda. Mereka berkomunikasi tanpa suara dan itulah bahasa isyarat.
Baru-baru ini Asian Medical Students’ Association Universitas Hasanuddin (AMSA-Unhas) mengadakan kegiatan “Hands Speak Word” untuk menjawab tantangan orang-orang dengan disabilitas khususnya pendengaran (tuna rungu). Bagaimana membuat mereka bisa lebih diterima dan bisa bersosialisasi. Ya… salah satunya dengan memperkenalkan bahasa mereka kepada masyarakat umum. Apa itu Hands Speak Word? Seperti apa kegiatannya? check this out

Minggu. 28 Oktober lalu. AMSA Unhas mengadakan kegiatan “Hands Speak Word” di Fakultas Kedokteran Unhas. Kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai salah satu wujud dari filosofi AMSA yakni Knowledge, Friendship, dan Action. Program ini memungkinkan member AMSA untuk berpartisipasi dengan melibatkan diri di dalam program penyetaraan untuk warga disabilitas. Hands Speak Word atau bisa disingkat HSW adalah salah satu program dari divisi Community Outreach AMSA Unhas yang bergerak di bidang pengabdian masyarakat dan baru pertama kali diadakan tahun ini.
HSW adalah kegiatan pelatihan bahasa isyarat kepada masyarakat umum, agar bisa memahami dan membantu teman-teman yang tuna rungu dalam berkomunikasi dan sosialisasi, sehingga kaum tuna rungu bisa setara dengan orang yang normal. Selain itu, bahasa isyarat adalah salah satu budaya dan ilmu yang menarik. Bagaimana kita berkomunikasi tanpa suara, lebih mengandalkan motorik dan ekspresi. AMSA Unhas sukses mengangkat program yang unik dan tentu sangat bermanfaat utamanya bagi teman-teman tuli.

Dalam pelaksaan HSW, AMSA mengajak komunitas Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (GERKATIN) cabang Makassar sebagai pemateri. Tidak hanya mengundang anggota AMSA saja namun kegiatan ini terbuka untuk masyarakat umum dan siswa SMA-sederajat. HSW cukup menyedot animo masyarakat, terbukti dengan banyaknya peserta yang mengikuti pelatihan. Kegiatan dikemas dalam bentuk seminar santai dan kelas pelatihan, dengan kak Emon sebagai pemateri yang mengajarkan bahasa isyarat dan dibantu kak Ciki sebagai penerjemah. Kegiatan seminar berlangsung di Gedung Lt. 5, sedangkan untuk kelas pelatihan diadakan di ruang Problem Based Learning (PBL) Fakultas Kedokeran Unhas.
Seminar disajikan dalam bentuk read and action. Pengajar menafsirkan materi yang ditampilkan pada layar dalam bentuk bahasa isyarat dan penerjemah menjelaskan artinya. Seminar berlangsung seru dan interaktif, selain menarik karena jarang diketahui oleh masyarakat umum, teman-teman tuli yang tergabung dalam GERKATIN juga terlihat semangat mengikuti kegiatan dan tetap percaya diri, meski dengan keterbatasan mereka. Setelah seminar, kegiatan dilanjutkan dengan kelas pelatihan. Peserta dibagi ke dalam kelas-kelas kecil. Kemudian diajarkan bagaimana penggunaan abjad, serta kata-kata sederhana dalam bahasa isyarat.

Kegiatan yang diketuai oleh Muh. Syawal Fitriadi ini, telah dipersiapkan selama 1 bulan lalu. Mulai dari persiapan konsep hingga publikasi kegiatan. Untuk publikasi sendiri selain melalui media sosial (instagram), AMSA-Unhas juga menyebarkan informasi kegiatan HSW melalui radio kampus EBS FM Unhas, sehingga jangkauan punblikasinya semakin luas.
Banyak manfaat yang bisa didapatkan dengan kegiatan ini. Selain terbentuk tali silaturahmi antara anggota AMSA dengan masyarakat umum dan GERKATIN, peserta juga menambah ilmu mengenai budaya dan bahasa isyarat dari teman tuli seperti perbedaan antara Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dan Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI), bagaimana teman tuli berkomunikasi, dan masih banyak lagi hal-hal baru yang jarang kita ketahui mengenai budaya dari teman tuli. Selain itu kita bisa lebih bersyukur dengan apa yang telah kita punya, serta memberi support pada teman-taman disabilitas.

“Kegiatannya seru, lumayan bisa tambah ilmu. Kita diajari banyak hal tentang bahasa isyarat. Sudah lama tertarik untuk belajar ini, tapi belum tau mau belajar dimana. Kegiatan HSW ini bagus, apa lagi dibagi dalam kelas-kelas kecil jadi materinya lebih paham.” ungkap Nita salah satu peserta dari Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar, angkatan 2015.
Walau tidak memiliki keterbatasan fisik, orang normal pun perlu mempelajari bahasa isyarat yang berlaku bagi mereka yang memiliki keterbatasan tersebut. Kegiatan semacam HSW ini diharapkan dapat menjadi salah satu fasilitasnya, seperti yang diungkapkan oleh Ruth Syeela Widianty dalam sambutannya sebagai Representative AMSA Unhas, “Kami berharap kegiatan ini, bisa memfasilitasi teman-teman untuk belajar bahasa isyarat. Agar nantinya terbentuk kesetaraan antara teman – teman disabilitas dengan orang yang normal.” (Rita, Icim)