Love in Sin

gambar : www.pexel.com

Karya : Valentina Febriani Tando

Agustus 2017

 “Tidaaakk !” Napasku kian memburu, berusaha mengumpulkan oksigen sebanyak mungkin. Lagi-lagi bayangan sesosok pria yang amat aku rindukan itu pergi meninggalkan ku jauh ke atas langit.  Dia ayahku. Tidak jarang mimpi ini selalu berulang, walaupun kejadian memilukan itu sudah berlalu 6 tahun yang lalu. Rasanya dendam dan amarah itu tetap mengendap di lubuk hatiku yang paling dalam. Ayah dengan tulus akan datang dan memintaku untuk memaafkan dia, anak laki-laki yang telah membunuh ayahku. Ya, dia orang kaya jahat dan tidak punya hati, yang selalu berpikir jika kekayaan orang tuanya bisa menggantikan segala hal yang dia rusak. Betul-betul hina. Aku muak.

Flashback

Maret 2010

Ibuku sudah meninggal sewaktu melahirkanku, dan ayahku juga terpaksa meninggalkan ku sendiri karena ulah pria itu. Sungguh malang nasibku. Apa ada lagi orang yang lebih malang dari diriku di muka bumi ini. Malam itu langit tidak henti-hentinya menurunkan air ke atas bumi, petir kian menggelegar dan kilat menyala di sana-sini. Malam itu adalah penentuan jika aku bisa melanjutkan pendidikan di bangku kuliah atau tidak. Ayah harus membayar sejumlah biaya pangkal masuk universitas yang menjadi unggulan di sini. Ayah selalu memintaku untuk rajin dan serius belajar agar bisa hidup dengan lebih layak dan sejahtera. Malam itu puncaknya. Ketika ayah dengan gembira menerima telepon dari temannya yang ingin meminjamkan segepok uang untuk biaya sekolahku. “Shindy, tunggu ayah ya nak, jangan sedih, ayah pergi sebentar mengambil uang untuk kuliah kamu sayang.” Kata-kata terakhir ayah yang mengalun indah dan tidak akan pernah aku lupakan. “Ayah, aku bisa bekerja dan menghidupi kehidupan kita berdua, asal kita selalu bersama.” Kataku getir, kenapa ayah selalu keras kepala? Aku sudah 19 tahun dan masih saja selalu dianggap putri kecilnya yang manja. Ayah hanya tersenyum dan memelukku lalu segera berlalu membelah gelapnya malam.

Wah, mobil baru lagi nih Bill?” Seru teman Bill yang tak hentinya tersenyum kagum melhat mobil sport kuningn yang terparkir cantik di lapangan.

“Yah, begitulah bro. Ini hadiah ulang tahunku, baru ada 2 di negara ini.” Gumam Bill dengan bangga dan seringaian terlukis di wajah tampannya.

Gile, ini sih namanya mobil dewa! Bisa lari kayak roket nih barang. Hebat lu Bill.” Puji temannya yang lain.

Ya, namanya juga mobil sport, pasti kencang larinya.”

“Apa bisa dibuktikan nih? Jangan-jangan ini mobil hanya modelnya aja yang oke, tapi larinya kayak kura-kura.” Tantang teman Bill.

Wah, siapa takut boss? C’mon. Let’s try.” Bill tertawa bangga dalam kesombongan masa mudanya.

“Tapi ini lagi hujan deras bro.” Bujuk salah seorang teman yang lain.

Sayangnya, Bill sudah menyalakan mesin mobilnya dan siap tancap gas. Malam itu, hujan memang tidak main-main membasahi permukaan jalan. Sudah setengah jalan, hingga Bill tiba-tiba merasa kehilangan kendali karena jalan yang sangat licin dan menabrak pengendara motor dari arah berlawanan di sebelah kanan jalan.

Malam itu harusnya Bill belajar untuk tidak mudah terpancing rasa penasaran orang lain.

Pengemudi motor itu,  lelaki renta yang tidak tahu apa-apa, tewas di tempat. Sedangkan Bill mengalami cedera serius di dadanya.

Jam dinding kini bertengger di angka 12. Ya Tuhan! Ini sudah 3 jam setelah ayah pergi dan belum juga kembali. Aku khawatir, aku tahu persis jaket yang digunakan ayah tidak cukup tebal untuk menahan dinginnya malam dan udara lembab karena air hujan yang berlomba-lomba jatuh ke tanah. Ayah, seharusnya tidak aku biarkan kau pergi.. Aku pun tenggelam dalam mimpi, sampai tiba-tiba suara gedoran yang seolah-olah ingin merobohkan pintu rumahku membuatku segera berlari ke arah pintu dan melihat siapa gerangan yang datang dini hari. Ah, seorang petugas keamaan, mungkin dia ingin berteduh. “Dek, apa benar kamu anak Sayuti?” Tunggu dulu, dari mana orang ini tahu nama ayahku. Dengan kepala yang terasa berat aku mengangguk pasrah. “Nak, bapakmu nak..” dengan suara terputus-putus seorang petugas keamanan menyampaikan pesan yang paling tidak ingin kudengar. “Nak, Pak Sayuti meninggal di jalan karena ditabrak mobil”. Aku pasti bermimpi ! Ini tidak benar, tidak mungkin.

Tidak ada yang mempertanyakan  mengapa malam itu Bill mengendarai mobil sport-nya di atas kecepatan rata-rata. Tentu saja bukti-bukti sudah dibereskan. Uang jaminan sudah disiapkan. Jangan salahkan Ayah Bill yang adalah pengusaha paling berpengaruh dengan segala kelimpahan harta dan kekuasaan yang sangat luas. Lagipula, Bill sendiri waktu itu lebih mencemaskan keadaannya sendiri daripada memikirkan nasib pria renta yang ia gilas dengan mobil mahalnya. Toh, pria itu lebih beruntung karena tewas di tempat, tidak merasakan nyeri teramat di tulang iga seperti yang dirasakan Bill saat itu. Rasa sakit yang dirasakan Bill adalah rasa sakit yang paling buruk yang pernah ia alami selama ini. Bahkan Bill sempat mengumpat kasar dan menyalahkan pria tua yang menurutnya tidak tahu aturan berkendara. Setelah masalah itu diselesaikan, Bill dibawa ke luar kota untuk pengobatan yang lebih memadai selama kurang lebih setengah tahun lebih.

Ibu Bill adalah wanita cantik, bijak, dan berkharisma, tidak jarang ia selalu menasehati Bill untuk pergi mendatangi secara langung keluarga pria tua yang sudah dia tabrak hingga tewas. Sekedar menjenguk atau lebih baik lagi meminta maaf.

“Apa tidak pernah terbesit sedikit saja rasa ibamu untuk tahu apa yang terjadi pada keluarganya?”

Bill yang sedang santai beristirahat kala itu, kemudian berbalik dan memandang ibunya dengan malas.

“Buat apa ibu? Ayah sudah menyelesaikan semuanya kan? Bahkan memberi terlalu banyak ganti rugi yang bisa dipakai untuk hidup bertahun-tahun.” Nada kesombongan itu bisa terdengar jelas. Atau jangan-jangan orang tua itu sebenarnya hanya pura-pura ingin menyenggol mobil mewahku dan mencari untung lalu meminta ganti rugi, namun sialnya dia tidak sengaja malah tewas.

Sang ibu tidak tahu lagi harus bicara seperti apa. Ibu rasa kau perlu tahu, kalau pria itu punya seorang anak perempuan yang masih butuh kasih sayang orang tua dan biaya kuliah. Apa kau tidak menyesal atas apa yang terjadi kepada gadis itu?

“Sebenarnya ibu ingin aku berbuat apa? Mengemis maaf kepada pengemis itu?” Bentak Bill karena merasa tersinggung mendengar tiap kata yang keluar dari mulut ibunya,

“Ibu tidak mau kamu jadi pria yang tidak bertanggung  jawab, Bill. Ibu mohon. Tolong bayangkan kalau kita diposisi anak perempuan itu. Sekali saja Bill, datanglah meminta maafnya.”

“Apa ibu tidak takut kalau dia akan minta ganti rugi lagi?”

“Berikan saja kalau begitu, nyawa seseorang dan arti kehadirannya tidak akan pernah bisa kau ganti dengan dirimu sekalipun.”

September 2010

Bill akhirnya datang, walau dengan setengah hati tentunya. Dengan segenggam buket bunga segar, dengan percaya dirinya dia memustukan masuk ke rumah gadis itu dengan berjalan kaki, karena ternyata rumahnya ada di dalam gang sempit dan dilengkapi rentetan rumah berdempetan yang tampak tidak terurus dan baunya mengganggu indra penghiduannya. Hatinya sudah merasakan hal aneh di setiap langkahnya, ternyata banyak kotoran yang menempel di sepatunya, rasanya dia akan buang saja sepatunya nanti. Kini dia berdiri di depan rumah yang dituju, tidak kotor seperti rumah lain disekitarnya, bersih dan tertata rapi.

“Permisi !” seru Bill dengan ogah.

Tampak seorang gadis yang tampaknya beberapa tahun lebih muda darinya keluar dari pintu dan menatap curiga. “Anda siapa tuan?”

Ah, namaku, Bill. Maaf ya baru sempat datang, aku baru selesai perawatan karena kecelakaan waktu itu.”

Setelah kalimat itu, Bill sudah tidak bisa menggambarkan detil apa yang terjadi. Yang jelas gadis menangis dan berteriak histeris dan nyaris saja kepalaku berciuman dengan pot bunga miliknya. Kemarahan yang tidak bisa aku gambarkan saat itu betul-betul membuatku takut dan tidak bisa membalas perbuatannya. Karena tidak puas pot bunga itu tidak membentur kepalaku, dia semakin mendekat dan memukul wajahku berkali-kali. Anehnya aku tidak merasakan sakit, yang justru membuat perasaanku terluka karena kata-katanya kian tajam mengiris batinku. Aku bisa merasakan kebencian, kemarahan, kekecewaan, dan kesedihan yang teramat dari setiap gerak, ekspresi, dan kata-katanya.

“Kau ! Bajingan hina, jangan lagi kau perlihatkan wajah tidak tahu malumu di hadapanku! Dasar pria bejat yang hanya bisa mengandalkan kekuasaan dan kekayaan orang tuanya. Kau pikir ayahku bisa kembali lagi dengan semua ganti rugimu? Kami memang miskin, tapi tolong hargai kami seperti dirimu ingin dihargai! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkanmu, ingat itu, dan jangan berani-berani kau datang kesini lagi. Semua ganti rugimu tidak kuterima sepeserpun. PERGI KAU..!!”

Sepulangnya ke rumah, Bill hanya bisa memandang kosong ke arah ibunya. Dia terlalu takut dan shock untuk menceritakan apa yang terjadi. “Ibu, aku sudah menemuinya.” Kata Bill dengan lemas.

“Dia sebatang kara ibu, dia juga tidak mau menerima apapun dari kita, apa yang harus kulakukan ibu.”

“Mulailah instropeksi diri sayang, rendah hatilah dan belajar mengasihi orang lain.”

Agustus 2017

“Ayo kak, kita harus ke kantor, walaupun perusahaan itu milik ayah, tidak sepantasnya juga kita terlambat datang bekerja.” Kata seorang gadis cantik disebuah mobil.

“Tunggu, aku tahu, ini tidak akan lama, tunggu dia keluar dan kita segera pergi.” Kata seorang pria dewasa, berwajah tampan dengan setelan jas hitam dan dasi merahnya yang tampak mencari seseorang.

“Ini gila! Apa kau  berniat sekedar menyapanya? Ini sudah 7 tahun sejak kecelakaan itu, wajahmu berubah kak, hormon sudah membuatmu jauh berubah, dia tidak akan mengenalmu dengan mudah. Sekarang dia sudah lulus kuliah dengan nilai baik dan sebentar lagi akan masuk perangkap open recruitment perusahaanmu. Aku bersumpah dia akan sangat berterima kasih jika tahu semua yang sudah kau lakukan untuknya semenjak kecelakaan itu.”

“Aku tidak ingin membahasanya, kau masih kecil”

Bill hanya bisa menatap dengan gembira saat melihat gadis itu berjalan dengan riang dari kampusnya. Gadis itu lenyap dibawa angkutan umum yang berjalan semakin jauh.

“Dia itu benar-benar keras kepala, bukankah sudah kuberikan dia uang jajan ke ibu pantinya supaya bisa pulang naik taksi saja. Angkutan umum itu panas dan berdesak-desakan, bagaimana kalau ada penjahat di dalam sana dan mengganggunya.” Gumam Bill yang masih bisa terdengar jelas oleh wanita di sampingnya.

Kak, cepat atau lambat kau harus memulai segalanya dari awal.”

Hening. Bill tampaknya tidak mau menanggapi perkataan adiknya itu. Akhirnya mobil mewah  itu berlalu membawa kakak beradik yang terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

….

“Shindy, ini ada surat panggilan kerja untukmu, ibu tidak menyangka kamu akan bekerja secepat ini nak.” Kata ibu asrama sembari menyerahkan sebuah surat. Shindy terlalu heran untuk menerima sebuah panggilan kerja, padahal dia baru saja dari kampus dan mengurus terbitnya ijazah. Perlahan membuka amplop surat itu, dia melihat dengan jelas logo perusahaan paling diincar karena sallary yang tinggi, apalagi bagi fresh graduate seperti dirinya. Tapi seingatnya, belum pernah dia mengajukan lamaran pekerjaan ke perusahaan manapun.

“Mungkin ini didaftarkan dari kampusmu nak, supaya alumninya cepat kerja, ga malu-maluin almamater.” Canda Ibu Anni sambil terkekeh. Yah, dia ibu panti yang mengajakku tinggal dipantinya setelah meninggalnya ayahku. Aku sangat bahagia disini, kesedihanku perlahan terkikis dengan senyum dan tawa anak-anak panti yang ada disini, sama-sama sebatang kara, kami menciptakan kebahagiaan kami disini.

Dengan sedikit gereget, Shindy membuka suratnya. Isi suratnya menyatakan bahwa dia diundang untuk menjalani rangkaian interview. Ibu Anni hanya bisa mengembangkan seulas senyumnya. Shindy terdiam, dia kembali mengingat rangkaian keberuntungan yang selalu saja tepat waktu. Seolah-olah Tuhan mengulurkan tangan-Nya langsung dan menolongnya menghadapi setiap tingkatan kehidupan. Dia merasa ini bahkan terlalu mudah! Mungkin ini terdengar sombong dan tidak bersyukur. Tapi kalian pasti akan merasakan hal yang sama kalau tahu cerita yang sebenarnya. Dia mendapat tumpangan gratis selama di panti asuhan ini, beasiswa yang menanggung biaya kuliah dan uang jajannya, dan bahkan langsung ada tawaran pekerjaan tepat setelah ia lulus! Tidak tanggung-tanggung, bahkan di perusahaan paling bonafid di negeri ini. Dia hanya bisa bersyukur sambil tersenyum pada langit dan mengenang ayah dan ibunya.

….

Hari interview pun tiba. Pagi ini benar-benar padat! Seharusnya aku ikut saran Ibu Anni untuk naik taksi saja, karena angkutan umum tidak membiarkanku untuk serapih dari panti.

Sesampainya di kantor megah itu, dengan gugup dan suara tertahan, ia memberanikan diri untuk bertanya pada receptionist di sana. “Permisi kak, boleh saya tahu di ruang yang mana untuk interview karyawan?”

Dengan senyum ramah, receptionist itu meminta surat pengantar Shindy. Membacanya dengan saksama, tanpa menyadari bahwa Shindy sudah deg-degan tidak karuan memikirkan berbagai kemungkinan buruk, seperti apa mungkin suratnya surat palsu, apa dia akan dipermalukan di depan umum, atau apa dia salah masuk kantor, apa kantor yang benar ada di gedung sebelah.

“Mari ikut saya dek.” Kata receptionist cantik itu.

Seruku tertahan dan kemudian mengikutinya.

Di dalam ruangan sebenarnya ia sangat gugup, namun sebelum ke sini dia sudah berdoa dan meminta restu Ibu Anni dan semua penghuni panti. Pertanyaannya standar, seperti motivasi, perkenalan diri, dan latar belakang pendidikan. Aku sudah sangat berusaha “menjual” diriku, semoga kali ini aku beruntung lagi.

“Baik Anda diterima bekerja di sini. Anda akan bekerja sebagai asisten pribadi Direktur perusahaan ini, tenang saja, dia masih muda, hanya beberapa tahun lebih tua bedamu, akan mudah bekerja sama denganmu. Mulai besok Anda sudah bisa bekerja.”

“Baik, saya siap bu.”

Apakah secepat ini ya Tuhan ? Rasanya aku sangat bahagia! Hari ini aku akan mentraktir satu asrama.  Senyumku tidak pernah berhenti tersungging sepanjang jalan, mungkin orang sudah mengiraku orang gila.

….

Kak, besok dia akan bekerja di sini. Tepat seperti yang kau inginkan. Dia cukup sopan dan cerdas saat aku wawancarai tadi.” Kata seorang perempuan cantik dengan cuek.

“Terima kasih, adikku yang cantik. Dengan ini akan lebih mudah mengawasinya.”

“Baik, selamat pagi, jadi perkenalkan, namanya Shindy Astuti, bertugas sebagai asisten direktur.” Perkenalan pagi itu dibuka oleh bendara umum perusahaan. Nampaknya banyak yang sudah tidak suka Shindy pagi itu, apalagi sudah banyak yang tahu kalau dia hanya freshgraduate. Baiklah welcome to the jungle, Shindy.

Memasuki ruang kerja bossnya, Shindy agaknya merasa canggung karena baru kali ini dia akan dekat dengan seorang pria karena tuntutan pekerjaan. “Selamat pagi pak, pekenalkan nama saya Shindy Astuti, saya akan bekerja keras membantu bapak.”

Apa dia bilang? Bapak? Aku sedikit terkekeh dan kemudian mangangkat suara, “Apakah aku setua itu Shindy? Namaku Putra Agung, panggil saja Agung.” Kataku tanpa berani menatap matanya. Ya Tuhan, apa dia betul-betul lupa dengan wajahku 7 tahun yang lalu? Sebenarnya namaku dulu, Bill Putra Agung, tapi karena ingin menjadi pribadi yang baru karena peristiwa kecelakaan itu, aku tidak mau lagi orang memanggilku Bill, jadilah namaku sekarang Putra Agung yang bertanggung jawab dan mandiri. Perlahan kuangkat kepalaku dan memandang mata coklatnya. Dia menatapku, tatapan kami saling bertubrukan. Rasanya ingin aku operasi plastik saja supaya wajahku berubah total dan supaya dia tidak menyadarinya.

“Di sini banyak karyawan yang sudah bapak-bapak, kalau kau memanggilku dengan sebutan pak, nanti semua orang menoleh dan mengganggu pekerjaan mereka. Aku tidak keberatan sama sekali di panggil Agung.” Kataku berusaha sedikit mencairkan suasana yang canggung.

“Baik, Agung.”

Ngomong-ngomong perusahaan ini tidak mau dinilai jelek karena tidak memberikan perhatian pada karyawannya, karena hasil wawancara kemarin katanya kau ini pengguna setia kendaraan umum ya? Jadi mulai sebentar kau akan menikmati fasilitas antar jemput karwayan setiap hari.”

Apa bossku ini lagi sakit atau umurnya sudah tinggal sebentar lagi? Baik sekali dia! Masih muda, tampan, mandiri, cerdas, betul-betul sempurna! Astaga aku ini berpikir apa sih.

Wah itu hebat sekali, terima kasih Agung !” Jeritku sambil membungkuk berterima kasih.

Syukurlah! Dia tidak mengenalku. Ingin rasanya jantungku melompat keluar saat dia memanggilku Agung. Aku tidak mengerti sejak kapan aku jatuh cinta padanya, yang kutahu hariku akan terasa berat dan khawatir jika tidak melihatnya barang sehari. Sampai sekarang dia satu-satunya wanita yang ada dihatiku. Tapi sampai kapan harus begini ? Shindy tidak boleh tahu siapa diriku sebenarnya. Selangkah lagi untuk lebih dekat dengannya, dan menjadikan dia istriku sampai aku mati.

Sudah sebulan aku bekerja di sini, tapi aku merasa bossku ini selalu berusaha lebih dekat melebihi pekerjaan kantor. Aku harus waspada, aku bukan wanita murahan yang habis manis sepah dibuang. Jujur saja, aku sempat tersanjung dan merasa berbunga-bunga menerima candaan, obrolan, dan perhatian darinya, tapi apa pantas aku berharap lebih padanya? Mengingat kami bagaikan langit dan bumi.

Apa aku tidak cukup mempesona dimatamu, Shindy? Semakin dekatmu membuatku semakin kagum dengan kemandirian, kerja keras, dan filosofi hidupmu. Apa ini balasan atas dosaku karena telah membunuh ayahmu? Karena pada akhirnya hatiku hanya tetap bisa melihatmu yang tidak punya apa-apa dibanding sederetan wanita kaya, berpengaruh, dan berpendidikan luar biasa yang mengantri untuk kunikahi. Ku rasa kau juga tidak cukup peka untuk menangkap sinyal keseriusanku untuk lebih dekat denganmu. Padahal segala tindak tanduk konyolku kulakukan hanya untuk melihatmu tertawa sayang. Memberimu pekerjaan lembur agar aku bisa mengantarmu pulang, dan bahkan pura-pura lewat depan pantimu hanya untuk sekedar menjemputmu. Malam ini adalah malam penentuan, aku pasti akan memenangkan hatimu Shindy, tunggu saja. Kau memang hanya tercipta untukku.

Sial! Apa yang dilakukan klien itu sih! Lihat, aku dan Agung sekarang sedang berada di restoran mewah seperti sedang kencan saja! Ini membuatku salah tingkah, karena Agung hanya menatapku dengan serius tanpa mengucapkan apa-apa. Apa pembicaraan bisnis perlu ditunda saja agar kami segera pulang. Gerutuku dalam hati sambil menggembungkan pipiku tanpa sadar.

“Shindy, tolong tatap aku, sebenarnya aku ingin mengakui kalau aku punya perasaan lebih padamu. Aku baru pertama kali merasakan hal seperti ini pada seorang wanita. Kau tahu, umur kita sudah sama-sama dewasa, kurasa kau bisa menilai betapa seriusnya diriku mengatakan hal ini. Maukah kau jadi kekasihku?” Aku menyelesaikan semuanya dalam satu tarikan napas! Sambil menggenggam tangan mungilnya. Aku tidak pernah seserius ini. Ya Tuhan, tolong aku, aku hanya ingin mendengar dia bilang “Aku mau. Aku bersedia.”

“Agung, aku sangat menghargai perasaanmu, sebenarnya tidak mungkin wanita normal sepertiku tidak tertarik padamu. Tapi aku ragu apakah keluargamu akan menerimaku, bersamaku tidak akan membawa untung sama sekali. Aku hanya gadis yatim, Agung. Sadarlah, masih banyak wanita yang lebih pantas untukmu, dan pastinya bukan aku.” Kataku serak, sambil menarik tanganku menjauh. Astaga, sok jual mahal sekali kau ini Shindy, apa tidak terpikir bagimu, setelah ini kau bisa dipecat?! Dialogku dalam hati.

“Aku tahu orang tuaku tidak seperti itu, aku sudah memikirkan segalanya, aku sudah berpikir ke depan jauh sebelum malam ini. Percayalah padaku.” Aku berusaha menyanggahnya, jawaban seperti tu sudah pasti aku pikirkan sebelumnya. Aku pasti bisa menjawab semua keraguanmu sayang.

“Baiklah, mari kita jalani, Agung.”

Tuhan, aku janji akan membahagiakannya, terima kasih karena dia telah menerimaku! Aku bersumpah dia tidak akan tahu kenyataan hina yang aku lakukan selama ini, mengatur hidupnya, menulis skenarionya, seolah-olah aku ini tuhan. Tapi aku tahu, Tuhan mengampuniku karena sampai sekarang selalu bertanggung jawab atas kehidupannya, bahkan cintaku juga kuberikan padanya. Aku tahu sejak awal kau telah jatuh cinta padaku, Shindy. Aku tidak akan melepasmu, apapun yang terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *